Tuesday, February 28, 2012
Melatih Si Kecil Mengatasi Konflik
Hampir tiap hari anak Anda mungkin bertengkar, entah dengan anak tetangga maupun adiknya. Yang rebutan mainanlah, tak mau membagi kuenya, maupun rebutan tempat duduk, dan sebagainya.
Daripada pusing mendamaikan mereka melulu, kenapa tak mencoba untuk mengajari anak mengatasi atau menghindari konflik-konfliknya? Apalagi, seperti dikatakan psikolog dra. Tjut Rifameutia U.Ali-Nafis, MA, mengajari anak-anak menyelesaikan konflik sebaiknya dilakukan sejak dini agar setelah besar mereka terlatih menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebab, untuk melatih anak menyelesaikan konflik berarti juga melatih anak mengontrol kemarahan dan emosinya. Bukankah kekerasan terjadi lantaran orang tak bisa mengendalikan amarah dan emosinya? "Tapi tentu ini bukan sesuatu yang mudah," ujar Tia, panggilan akrabnya. Terlebih lagi ciri anak-anak adalah kepolosan.
"Kalau mereka mau marah, ya, marah saja, tak perlu menunggu atau menundanya alias tak perlu kontrol diri segala. Hal ini disebabkan mereka belum tahu aturan main dalam kehidupan," lanjut staf Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UI. Itulah mengapa, kita perlu mengajarinya. Memang, tambah Tia, anak bisa belajar dari pengamatan, "tapi kalau salah persepsi, bagaimana?"
Disamping itu, jika kita tak mengajarkan, saat anak besar nanti bisa mengganggu hubungan sosialnya. "Saat di sekolah, guru-gurunya akan kesulitan dalam menghadapi si anak. Di kelas ia bisa jadi pemarah, suka menjerit-jerit dan memukul temannya. Nah, lambat-laun ia bisa kehilangan teman, kan?" Ia pun bisa diberi label oleh teman-temannya, entah sebagai si pemarah atau si brengsek, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, akhirnya akan mengganggu perkembangan konsep dirinya. "Bisa-bisa ia akan bersikap, kalau aku enggak marah maka bukan aku lagi."
ETIKA BERGAUL
Jadi, Bu-Pak, betapa penting mengajari anak mengatasi maupun menghindari konflik. Kendatipun tak mudah, namun percayalah, kita pasti bisa melakukannya. Caranya dengan mengajak anak berdialog. Bukankah di usia prasekolah ia sudah bisa diajak berdialog? "Jelaskan pada anak tentang etika bergaul seperti bagaimana akibatnya jika mereka selalu berebut dan tak mau berbagi, apalagi sampai bertengkar dan memukul," tutur Tia.
Ajarkan pula untuk bertenggang rasa dan berempati pada perasaan orang lain, juga pentingnya sikap saling memaafkan. Tapi tentu tak cukup hanya bila dilakukan lewat dialog karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak akan lebih efektif bila dilakukan juga lewat contoh sehari-hari dari orang tua. "Orang tua tentunya pasti pernah bertengkar atau berargumentasi di depan anak-anak, kan? Nah, pastikan anak-anak melihat kedua orang tuanya saling meminta maaf dan saling memperbaiki diri seusai bertengkar." Jangan lupa untuk selalu mengajari anak-anak meminta maaf dan berdamai seusai bertengkar. Disamping itu, media bantu seperti buku-buku cerita atau film yang memperlihatkan nilai-nilai tersebut juga akan sangat membantu dalam mengajarkannya.
LATIH MEMECAHKAN MASALAH
Selanjutnya, yang harus kita lakukan ialah melatih anak memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, bila anak-anak sedang bertengkar, biarkan saja dulu, tak perlu tergesa-gesa mencampuri urusan mereka. "Barulah jika pertengkaran itu sudah mengarah ke hal-hal yang membahayakan, orang tua harus segera menghentikannya," kata Tia. Misalnya, pertengkaran mengarah ke perkelahian atau bertengkar dengan kata-kata yang tak semestinya dilontarkan anak seusia itu.
Kala menengahi pun kita tak perlu buru-buru memberikan jalan keluar. Tanyai dulu keduanya, apa yang kalian ributkan? "Jadi orang tua masuk dan mereka diajak diskusi agar lebih tenang dan tak main mulut begitu saja." Setelah salah satu bercerita, tanyai lagi lainnya, apakah itu benar? "Dengan demikian mencegah mereka menjadi pengadu." Lantas, tanyai, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik. Tentunya masing-masing akan mengemukakan argumennya.
Nah, saat itulah kita harus menunjukkan bagaimana bisa menyelesaikan konflik meski berbeda sudut pandang, "Kalau menurutmu, mungkin pendapatmu itu yang benar. Tapi coba kita lihat dari pendapat temanmu." Misalnya, mereka berebut main di ayunan taman yang menjadi milik umum. Jelaskan, "Barang ini memang milik orang banyak. Jadi, semua orang boleh memakainya, baik kamu maupun temanmu. Nah, karena semua orang boleh pakai, maka berarti ini bukan milikmu sendiri, kamu tak boleh pegang terus mainan ini. Temanmu pun harus mendapat giliran pakai, kan?" Jadi, buat mereka berdialog sehingga masing-masing akan mengerti apa maunya orang lain. Kemudian, tanyai atau dorong mereka untuk mencapai kesepakatan bersama agar keduanya dapat memakai ayunan itu bersama.
"Karena temanmu duluan yang memegang ayunan itu, bagaimana kalau 10 menit pertama temanmu yang naik duluan dan kamu yang mendorongnya. Setelah itu ganti kamu yang naik dan temanmu yang dorong, setuju?" Bisa juga dengan membuat aturan bersama. Misalnya, "Lain kali gini, deh , siapa yang pegang ayunan duluan , ia yang berhak main duluan. Yang lain dilarang menyerobot." Kalau mereka tanya, kenapa? Terangkan, "Bagaimana perasaanmu jika kamu sedang asyik bermain terus ada orang yang merebut mainanmu, kamu juga tak suka, kan?"
EMPATI DAN TOLERANSI
Bila anak masih tak bisa mengontrol emosinya, bimbinglah ia untuk mengarahkan emosinya. Katakan, misalnya, "Bunda mengerti Kakak marah karena Tati terus memainkan ayunan itu tanpa memberimu kesempatan untuk memainkannya. Barangkali Tati memang sudah lama ingin bermain ayunan. Coba, deh, bayangin kalau Kakak sudah lama ingin main ayunan, tentunya Kakak enggak cukup puas kalau mainnya sebentar, kan?"
"Jadi, anak senantiasa dilatih untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan berempati pada perasaan orang lain agar tak menjadi egois," tutur Tia. Menurut Tia, tak sulit, kok, melatih rasa empati pada anak. Kala bonekanya jatuh, misalnya, mintalah ia untuk memeluknya, "Duh, kasihan, pasti sakit sekali kakinya. Coba dielus-elus." Begitu juga kala kucingnya mengeong, misalnya, kita bisa menunjukkan, "Mungkin si Pus lapar, ya, sehingga mengeong terus. Yuk, kita kasih makan." Dari sini, perlahan-lahan akan tumbuh rasa empatinya.
"Ia terlatih untuk memahami kesulitan makhluk lain dan perasaan orang lain. Dengan empati yang berjalan baik, lambat laun kontrol dirinya juga jadi baik," terang Tia. Ia pun akan makin mengerti, mengapa orang lain melakukan tindakan berbeda dengannya. Sehingga, betapapun juga ia tak setuju dengan tindakan orang lain, ia akan berusaha berpikir seperti cara orang tersebut berpikir. Dengan begitu, konflik yang keras dapat dihindari. Tapi tentu kita juga perlu mengajarinya toleransi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajari anak untuk saling berbagi sejak dini sehingga sikap toleransi akan mendarah daging dalam perilakunya.
"Mulailah dengan mengajari anak untuk membagi kue atau mainannya dengan adik atau teman-temannya." Yang tak kalah penting ialah mengajarkan keluwesan dalam menghadapi persoalan. Misalnya, ia tak mau membereskan mainannya setelah selesai bermain, "jangan lantas memberinya ultimatum, tapi berilah alternatif waktu untuk memilih waktu yang tepat dalam membereskannya, 'Bagaimana kalau sehabis menonton film kartun kamu membereskannya?'"
Jadi, ada fleksibelitas dalam menangani sesuatu. Dengan selalu mengajarkan keluwesan atau fleksibelitas, anak tak akan mudah meledak marah kala temannya tak mentaati aturan main yang telah mereka buat. Bukankah ia sudah terbiasa dengan ajaran, selalu ada jalan keluar lain manakala ada kesepakatan yang meleset?
BERSIKAP ADIL
Tentu kita juga perlu bertindak tegas terhadap perbuatannya yang salah saat meluapkan amarahnya. Misalnya, ia suka memukul. Nah, jelaskan padanya bahwa ia mesti menghilangkan kebiasaan buruknya memukul teman atau adiknya. Jika masih terulang lagi, maka ada konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kegemarannya di TV, tak boleh makan es krim selama seminggu, dan sebagainya.
Tapi ingat, pesan Tia, kita harus adil dalam hal ini. "Jika yang bertengkar adalah kakak-adik, maka siapa pun yang jadi biang keroknya, ia tetap anak Anda. Jadi, tetaplah berdiri di tengah dan jangan berpihak." Kalaupun mereka harus dihukum, hukumlah dengan sama rata. "Jangan si kakak saja yang dihukum, lantas si adik tidak. Karena sikap ketakadilan akan sangat membekas di hati anak."
Jadi, lebih baik berdiri di tengah dan lakukan negosiasi dengan mereka dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya. Jika tak bisa diatasi, kita bisa menyita benda yang dijadikan rebutan. Mungkin mulanya mereka akan tambah ribut dan memprotes tindakan ini, tapi kita tetap harus tegas. "Anak-anak perlu tahu, jika mereka terus ribut dan tak ada yang mau mengalah atau bergantian main, maka benda itu sama sekali tak boleh dimainkan." Lain halnya jika mereka dapat menegosiasikan cara bermainnya sehingga tak berebut atau bahkan malah hendak bermain bersama. Cara lain, meminimalkan kemungkinan terjadinya keributan. Misalnya, bila anak memang tak suka meminjamkan mainan kesukaannya pada orang lain, ya, jangan keluarkan benda itu kala teman-temannya datang. Dengan demikian, konflik sama sekali tak muncul.
Indah Mulatsih/nakita
Monday, February 20, 2012
4 Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak
dakwatuna.com - Rasulullah saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).
Bahkan dalam shalat pun Rasulullah saw. tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abi Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah saw. mendatangi kami bersama Umamah binti Abil Ash –anak Zainab, putri Rasulullah saw.—Beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika rukuk, Beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, Beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim dalam Kitab Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, hadits nomor 840).
Peristiwa itu bukan kejadian satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah saw. datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuha peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasai dalam Kitab At-Thathbiq, hadits nomor 1129).
Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah saw. “Rasulullah saw. pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544).
Begitulah Rasulullah saw. bersikap kepada anak-anak. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan dalam praktik bagaimana bersikap kepada anak dengan penuh cinta, kasih, dan kelemahlembutan.
Karena itu, setiap sikap yang bertolak belakang dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., adalah bentuk kejahatan kepada anak-anak. Setidak ada ada empat jenis kejahatan yang kerap dilakukan orang tua terhadap anaknya.
Kejahatan pertama: memaki dan menghina anak
Bagaimana orang tua dikatakan menghina anak-anaknya? Yaitu ketika seorang ayah menilai kekurangan anaknya dan memaparkan setiap kebodohannya. Lebih jahat lagi jika itu dilakukan di hadapan teman-teman si anak. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada si anak dengan nama yang buruk.
Seorang lelaki penah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an,” kata anak itu.
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Rasulullah saw. sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).
Karena itu Rasulullah saw. kerap mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik. Atau, mengganti julukan-julukan yang buruk kepada seseorang dengan julukan yang baik dan bermakna positif. Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk). Rasulullah saw. memanggil Aisyah dengan nama kecil Aisy untuk memberi kesan lembut dan sayang.
Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya.
Kejahatan kedua: melebihkan seorang anak dari yang lain
Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orang tua kepada anaknya. Sikap ini adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang tuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.
Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehinggi menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah saw. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).
Dan puncak kezaliman kepada anak adalah ketika orang tua tidak bisa memunculkan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang kurang cantik, kurang pandai, atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Padahal, tidak cantik dan cacat bukanlah kemauan si anak. Apalagi tidak pintar pun itu bukanlah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan anak adalah pemacu bagi orang tua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah saw. bersabda, “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya di atas kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban)
Kejahatan ketiga: mendoakan keburukan bagi si anak
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828)
Entah apa alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya. Saking bencinya, seorang ibu bisa sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.
Coba simak kisah ini. Seseorang pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau pernah berdoa (yang buruk) atasnya.” Orang itu menjawab, “Ya.” Abdullah bin Mubarak berkata, “Engkau telah merusaknya.”
Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak yang sebelumnya sudah durhaka kepada orang tuanya.
Kejahatan keempat: tidak memberi pendidikan kepada anak
Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”
Perhatian. Itulah kata kuncinya. Dan bentuk perhatian yang tertinggi orang tua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah bentuk kejahatan orang tua terhadap anak. Dan segala kejahatan pasti berbuah ancaman yang buruk bagi pelakunya.
Perintah untuk mendidik anak adalah bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya tentang agamanya dan memberi keterampilan untuk bisa mandiri dalam menjalani hidupnya kelak. Jadi, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan si anak hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.
Perintah ini diberikan Allah swt. dalam bentuk umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anaknya cara shalat. Meskipun kesibukan itu adalah mencari rezeki yang digunakan untuk menafkahi anak-anaknya. Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah di surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usaia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).
Ketahuilah, tidak ada pemberian yang baik dari orang tua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal.”)
Semoga kita tidak termasuk orang tua yang melakukan empat kejahatan itu kepada anak-anak kita. Amin.
Monday, January 23, 2012
Melatih Kepercayaan Diri

Meningkatkan rasa percaya diri pada anak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bisa jadi karena metode yang digunakan oleh orang tua kurang sesuai maka rasa percaya diri anak justru semakin lama semakin pudar. Maka peran orang tua dalam usaha meningkatkan rasa percaya diri pada anak sangat diharapkan.
Rasa percaya diri pada anak akan berguna sepanjang hidupnya. Itulah di antara hal yang akan dapat menguatkan motivasi pada seseorang untuk tetap survive dalam kondisi yang berat. Ketika problematika sosial semakin kompleks maka rasa percaya diri akan semakin memegang perannya yang penting.
Berikut ini ada beberapa kiat yang bisa anda pakai dan praktikkan untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak anda.
1. Panggillah anak-anak dengan nama-namanya
2. Berilah waktu anak anda untuk berbicara tentang hal yang merisaukannya
3. Pakailah metode-metode yang disukainya
4. Sesuaikan perhatian anda dengan fase perkembangan anak dan kemampuannya
5. Berilah kesempatan dan peluang pada anak untuk memilih solusi-solusi dan berilah dia wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan fase perkembangannya
6. Berilah dia kesempatan untuk mencoba hal-hal baru dalam usahanya
7. Luangkan waktu anda untuk anak anda dan ingatlah bahwa hal itu merupakan hal yang paling baik dibanding materi yang lain
8. Dampingi anak dalam melakukan hobinya dan hindarkanlah campur tangan anak lain dalam hobinya
9. Hindarilah mencela atau memanggilnya dengan nama yang buruk
10. Jadilah teladan yang baik baginya, karena anak-anak belajar melalui keteladanan terutama orang terdekatnya khususnya orang tuanya
11. Bila bermaksud meluruskan kesalahannya, maka janganlah menyebut pribadinya tapi sebutlah metodenya yang keliru (misal: katakanlah “Ruang kerja itu bukan untuk tempat bermain-main” sebagai ganti dari “Jangan bermain di ruang kerja hai anak tidak beradab”)
12. Pujilah anak jika berhasil melaksanakan tugasnya
13. Terimalah apapun perasaan dari anak – baik itu penolakan ataupun penerimaan- tanpa menghukuminya
Dengan melakukan tips-tips di atas diharapkan rasa percaya diri pada anak akan bisa meningkat. Sebagai orang tua, khususnya ibu tentu tidak melulu dengan tips di atas tapi juga harus mencoba melakukan berbagai tips-tips lainnya yang bisa digali lewat pengalaman pribadi atau hasil dari “ngrumpi” dengan ibu-ibu arisan. Selamat mencoba.
taken from: http://pondokibu.com/275/tips-tips-meningkatkan-rasa-percaya-diri-pada-anak-anda/
Monday, January 16, 2012
10 Tips agar anak tertib melaksanakan sholat 5 waktu tepat waktu

1. Peran orang tua untuk memberikan contoh kepada anak untuk selalu sholat 5 waktu, sholat berjama’ah di rumah maupun di masjid, sesering mungkin si anak diajak untuk melihat langsung sholat yang dikerjakan oleh orang tua, misal sekiranya di masjid takut membuat gaduh, sebaiknya orang tua memberikan contoh sholat berjama’ah di rumah. Jika si anak sudah mulai tertarik untuk mengikuti gerakan sholat yang di contohkan oleh orang tua, selanjutnya orang tua mengajarkan bacaan-bacaan di dalam sholat tersebut, buat suasana yang menyenangkan agar si anak tidak bosan dengan bacaan-bacaan yang panjang dan sulit untuk di lafalkan.
2. Hormati waktu-waktu adzan dikumandangkan. Misalnya mematikan televisi, radio atau suara-suara lain agar lantunan adzan terdengar dan memberitahukan kepada si anak bahwa waktu sholat telah tiba. Terutama pada sholat magrib dan isyak, dimana waktu-waktu tersebut merupakan waktu yang banyak dipakai si anak untuk menonton acara televisi seperti serial kartun dan acara anak lainnya.
3. Bentuk jama’ah sholat dalam keluarga yang dipimpin oleh Ayah, si anak juga perlu diikut sertakan untuk menggelar tikar, sajadah, atau mengumandangkan iqomat. Hal tersebut memacu anak untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan sholat.
4. Bimbingan dan Nasehat Nasehat orang tua yang baik merupakan sarana yang ampuh untuk menghubungkan keinginan orang tua dan kemauan anak dengan cepat. Apalagi isi nasehat itu tulus dari dasar hati orang tua untuk kebaikan anak. Agar nasehat membawa perbaikan maka perhatikanlah hal-hal berikut :
- Ulang-ulangilah nasehat, dan usahakan bahasa kalimat yang digunakan sangat menyenangkan agar lebih mudah di terima si anak, namun jangan berlebih-lebihan agar si anak tidak bosan mendengarkannya.
- Pilihlah waktu yang tepat, yaitu waktu ketika kondisi si anak dalam keadaan kondusif.
- Gunakanlah kata-kata yang mudah dan dapat dipahami sesuai dengan usia anak serta daya tangkap dan nalarnya.
5. Kisah dan Cerita. berikan anak cerita yang menarik tentang pahala dari mengerjakan sholat, tentang siksaan Allah, jika orang tidak mengerjakan sholat. Atau juga cerita-cerita kisah para sahabat nabi atau orang yang rajin sholat ketika mereka mendapatkan hikmah dari mengerjakan sholat tersebut. Kisah termasuk sarana pendidikan yang efektif. Sebab ia dapat mempengaruhi perasaan dengan kuat. Apalagi kisah nyata, sangat besar pengaruhnya pada jiwa anak, dapat memperkokoh ingatan anak dan kesadaran berfikirnya. Sebuah pelajaran akan lebih mudah dicerna dan difahami oleh anak bila diberi ilustrasi cerita. Kisah dan cerita juga dapat mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Akan menciptakan kehangatan dan keakraban tersendiri, sehingga akan membantu kelancaran komunikasi.
6. Metode Pembiasaan Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab bila anak terbiasa mengerjakannya secara teratur, maka hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan. Dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah. Tanamkan kepada mereka kebiasaan melakukan sesuatu yang baik dan membawa keberuntungan baginya dalam urusan dunia maupun agama. Baik itu ibadah, adab, tutur kata, sopan santun, rutinitas keseharian, dan lain sebagainya.
7. Memanfaatkan Waktu Luang ajak anak untuk mengisi waktu luang dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat. Berikan pengarahan yang benar dalam jalur kebaikan. Luangkan waktu orang tua bersama anak, untuk menemani, membimbing, dan beraktivitas bersama mereka. Sehingga anak akan terlepas dari sebab-sebab penyimpangan dan hal-hal yang tidak bermanfaat.
8. Biasakan anak-anak untuk bangun pagi, beri rangsangan kepada mereka dengan sesuatu yang menarik perhatian mereka. Umumnya si anak pada waktu pagi hari sangat malas untuk bangun. Dan masalah ini perlu penanganan khusus bagi orang tua untuk mengajari anak disiplin.
9. Beri rangsangan atau motivasi berupa hadiah bagi anak yang paling rajin sholatnya. Buat daftar catatan seberapa banyak anak melaksanakan sholat dalam satu bulan. Anak yang memiliki daftar catatan sholat terbanyak itulah yang mendapatkan hadiah lebih spesial dari lainnya. Kata-kata atau ucapan “pintar, rajin sekali, hebat bener anak ayah” dan lainnya juga dapat merangsang anak untuk lebih giat lagi dalam menjalankan sholat.
10. Pemberian hukuman metode pemberian sanksi baru digunakan apabila seluruh metode mengalami kegagalan. Dan saat menjatuhkan sanksi, perhatikan waktu yang tepat dan bentuk sanksi yang sesuai dengan kadar kesalahan. Bentuk sanksi ini bisa bervariasi dari yang teringan, misalnya mengurangi jatah harian anak, mengurangi jam bermain atau yang semisalnya. Bisa berbentuk sanksi sosial berupa pengacuhan sampai yang terberat, yaitu hukuman fisik.
Lalu bagaimana jika orang tua tidak bisa mengawasi/memantau anak dalam melaksanakan sholat (waktu sholat dhuhur dan ashar biasanya) karena orang tua masih bekerja?? Hal itu bisa diatasi dengan tips berikut:
1. Menyekolahkan anak di sekolah berbasis islam, atau sekolah Negeri yang memiliki peraturan atau kebiasaan melaksanakan sholat berjamaah di mushola sekolahan.
2. Memantau anak melalui telepon (jika sudah pulang sekolah), tujuannya untuk mengingatkan si anak agar segera melaksanakan sholat.
3. Beri kepercayaan kepada anak untuk mengerjakan sholat meskipun tidak dalam pengawasan orang tua. perlu diingat, anak merupakan cerminan dari orang tua, maka jika si anak bandel, malas untuk melaksanakan sholat. orang tua harus introspekdi diri apakah orang tua sudah melakukan hal yang baik atau belum. Semoga tips sederhana ini mampu memberikan sedikit masukan terhadap orang tua dalam mendidik anaknya untuk disiplin mendirikan sholat 5 waktu.
Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?p=470485560&posted
Tuesday, October 11, 2011
Tidaklah Semua Anak Itu Menyenangkan Hati Orang Tuanya

Rasanya sudah semua yang harus dilakukan oleh bu Nisa sebagai orang tua. Semuanya tabungan tabungan bu Nisa sampai habis untuk membiayai keinginan dirinya dan suaminya dalam rangka “mensolehkan” anak pertamanya. Anak pertama lelaki, yang disambut dengan sangat gembira dan diharapkan bisa meneruskan usaha ayah dan ibunya yaitu warung sate yang terkenal di daerah puncak bogor. Namun pada kenyataannya sang anak pertama, anak kedua, anak ketiga bahkan sampai anak ke empat keinginan untuk belajar dan beribadahnya sangat kurang, mungkin karena mereka terlalu dimanjakan.
Sudah dua kali anak sulungnya yang berbadan bongsor dimasukkan ke sebuah sekolah yang terkenal bagus dan mewah. Namun anaknya disekolah tersebut hanya menjadi trouble maker saja, maklum dalam dompetnya terdapat uang ratusan ribu yang mana dia bisa membeli apa saja yang diinginkan dan menjadi trend setter (trend yang diikuti oleh banyak anak remaja lain seusianya), yang rata-rata baru berusia 15 sampai 17 tahun.
Tidak sampai lulus dari sekolah yang bagus itu, maka bu Nisa memutuskan untuk memasukkan sang anak ke sebuah pesantren. Sampai 2 buah pesantren dengan fasilitas yang baik dan terbaikpun sudah dicoba sang anak namun hasilnya nihil. Bu Nisa kecewa, marah dan gusar. Harapannya agar sang anak mandiri, soleh, memiliki kemampuan akademik yang bagus dan dapat meneruskan usaha warung sate orangtuanya yang semakin membesar nampaknya tidak bisa terlaksana.
Kemarahan bu Nisa bercampur dengan kesedihan manakala anak kedua diketahui keluar dari sekolah dan sering bolos serta duduk-duduk di mall dengan kawan-kawannya dan baru kembali ke sekolah ketika jam sekolah usai. Sementara anak yang ketiga baru-baru ini diduga mengidap penyakit epilepsi (ayan) yang membuatnya suka terlihat kejang-kejang tanpa sebab diwaktu yang tidak dapat dipastikan. Sementara anak keempat diam-diam saja dan tidak menunjukkan prestasi apapun, walaupun sudah diberikan les-les penunjang untuk pelajaran akademik maupun non akademik, namun ketika diikutkan dalam lomba apapun, sikapnya malas-malasan dan tidak pernah menang bahkan untuk peringkat terendah sekalipun.
Namun anak bu Nisa yang kelima yang baru duduk di kelas 2 SD nampaknya berbeda dengan kakak-kakaknya. Hal ini Nampak dari kegemarannya mendengarkan murotal Al Qur’an sebelum tidur. Bahkan dikelasnya pun hafalan Al Qur’annya yang paling banyak dan dapat dibanggakan. Untuk nilai akademiknya alhamdulillah selalu menduduki peringkat satu, bahkan nilainya tertinggi di kelas 2 naik ke kelas 3. Anak yang kelima yang juga bungsu ini, walaupun tanpa disadari merupakan anak kesayangan, karena tingkah polahnya yang menyenangkan, taat juga lucu, tidak lekas membuat si bungsu sombong dan besar kepala dikarenakan perlakuan berbeda dari orangtuanya. Bahkan kakak-kakaknya pun semua menyayangi dirinya, kepandaiannya dalam bicara dan juga membuat orang yang memandang padanya menjadi senang, sungguh merupakan talenta yang luar biasa.
Bu Nisa tak perlu risau, tugas orang tua hanyalah berusaha saja memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya dan juga mendidik anak-anak dengan segenap kemampuan yang ada. Dan pola pendidikan di dalam sebuah keluarga tidak bisa disamakan dengan keluarga yang lainnya. Teruskan saja apa yang dilakukan bu Nisa dengan sebaik-baiknya, namun bagaimana hasilnya, semua terserah pada Allah. Allah lah yang akan menentukan baik buruknya seorang anak, bukan tergantung dari usaha orang tua semata, namun ada faktor kuasa Allah disitu.
Lihatlah dari kisah nabi Yakub, bagaimana anak-anaknya banyak sekali dari istri pertama dan kedua yang semuanya berjumlah 12 orang, bahkan salah satu anak kesayangannya Yusuf, ketika masih kecil hingga remaja sampai usai dewasa tinggal jauh dari pengawasannya. Namun berkat doa yang tidak putus siang dan malam, maka sang anak selalu terjaga dari berbagai kemaksiatan. Terbukti pula bahwa walau anak-anak lainnya tidak begitu soleh, bahkan sempat merencanakan pembunuhan pada anaknya yang lain, yaitu Yusuf, namun nabi Yakub tetap mencintai semua anak-anaknya dan memperlakuakn mereka semua dengan baik.
Tidaklah sama nasib satu anak dengan yang lain, namun perlakuan kita pada semua anak haruslah sabar dan tetap mencintai, walau akhir dari kisah anak-anak kita berbeda, dengan kesolehan dan derajat kesuksesan yang berbeda-beda pula. Namun kita sebagai orang tua wajib memberikan pendidikan dan pemeliharaan yang terbaik bagi anak kita, tanpa putus asa.
Fifi P Jubilea
Founder and Conceptor of JISc, penulis artikel konsultasi pendidikan anak, remaja dan keluarga.
bundafe.jisc@gmail.com
http://www.jakartaislamicschool.com
www.bundafe.com
Ketika Anak Selalu Terlambat Datang Sekolah

REPUBLIKA.CO.ID, Sudah pukul 7 Andy belum juga bangun, belum shalat subuh dan belum siap-siap mandi. Alhasil, Andy terlambat lagi masuk sekolah seperti hari-hari sebelumnya.
Ibunya Andy akhirnya menerima surat teguran dari sekolah untuk yang kedua kalinya. Problem Andy sebenarnya tergolong tidak berat diabanding masalah teman-temannya. Andy hanya sering terlambat datang ke sekolah dan selalu lupa bawa buku PR.
Sementara masalah teman-teman Andy yang lain untuk anak remaja seusianya seperti merokok, mem-bully kawan bahkan pulang nongkrong di mal. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Andy.
Dari segi akademis Andy tergolong baik-baik saja. Andy mampu mengikuti pelajaran dengan baik walaupun belum pernah meraih rangking pertama atau 5 besar sekalipun. Namun Andy tidak terlalu payah mengikuti pelajaran karena hampir semuanya dapat diikutinya dengan baik. Tidak ada yang merisaukan prilaku Andy kecuali kebiasaannya yang selalu bangun kesiangan dan selalu terlambat masuk sekolah.
Sebenarnya sudah berbagai macam cara dilakukan oleh ibunya untuk mengatasi masalah itu. Namun Andylah yang susah untuk merubahnya. Memarahi, kesal bahkan mengancam sudah dilakukan ibunya Andy, namun jawaban Andy simple saja yaitu, "mengantuk yaa mengantuk, tidak bisa dirubah lagi."
Akhirnya ibunya mencoba mencari cara lain agar Andy tidak terlambat lagi datang ke sekolah. Agar tidak kesiangan ibunya meminta Andy untuk tidur lebih awal dimalam hari. Karena menurut ibunya Andy, cara ini dapat membuat Andy bangun juga lebih awal.
Untuk anak-anak remaja seusia Andy memang susah sekali tidur di awal waktu. Oleh karena itu, apa yang harus orangtua lakukan sebaiknya adalah menyibukkan anaknya dengan berbagai kegiatan di sore hari yang utamanya aktivitas yang bersifat fisik, seperti main bola, taekwondo atau bela diri lain yang dapat menguras tenaga.
Atau bisa juga dengan mengajak anaknya untuk bermain basket ball, tenis atau apa saja yang penting si anak mengikuti kegiatan fisik yang mengerahkan tenaga dan membuat lelah. Ketika tubuh si anak lelah maka biasanya si anak ingin segera sampai rumah, lalu mandi, makan dan tidur.
Dengan cara ini Insya Allah berhasil untuk membuat anak remaja kita tidur lebih awal dan kemudian bangun juga lebih awal dan diharapkan tidak akan terlambat bangun lagi.Fifi P Jubilea
Founder and Conceptor of JISc, penulis artikel konsultasi pendidikan anak, remaja dan keluarga.
bundafe.jisc@gmail.com
http://www.jakartaislamicschool.com
www.bundafe.com
Sunday, August 21, 2011
Melatih Kemandirian Anak
Orangtua memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan anak, misalnya makanan, pakaian, tempat tinggal, juga kasih sayang. Akan tetapi, tidak selamanya orangtua hadir sebagai penyedia kebutuhan anak. Oleh sebab itu tujuan utama membesarkan anak sesungguhnya adalah menyiapkannya menuju kehidupan sebagai individu dewasa kelak.
Sedikit demi sedikit anak mengalami proses pendewasaan agar tidak bergantung kepada orangtua. Melatih kemandirian anak perlu dilakukan sejak dini, tentunya dengan cara-cara yang sesuai usia dan perkembangan anak. Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk melatih kemandirian putra putri kita, siswa-siswi Kelas Ja'far yang usianya berkisar 7-9 tahun. Tapi, di sini akan kami bagi ke dalam 2 fase usia:
USIA 6-8 TAHUN
Menyapu
Menyapu dapat dilakukan dengan mudah, sehingga cocok untuk anak usia ini. Ajarkan bagaimana memegang dan menyapu secara benar. Dengan memberikan contoh sedikit, umumnya anak dapat melakukannya. Harap maklum bila dia belum mampu melakukannya dengan baik karena memang kemampuannya baru taraf segitu. Yang penting, anak sudah belajar untuk melakukan sesuatu yang positif bagi diri maupun lingkungan rumahnya.
Menyapu dapat dilakukan di dalam rumah maupun di halaman. Namun karena arealnya berbeda, kita pun perlu mengajarkan kembali. Misal, bagaimana supaya daun-daun kering yang jatuh di atas rumput bisa tersapu, anak harus menggunakan sapu lidi dan mendorongnya harus sambil diangkat sedikit.
Membereskan Kamar
Sejak usia prasekolah anak sudah bisa diajarkan bagaimana membereskan tempat tidur. Nah, di usia ini kita bisa mengajarkan hal yang lebih rumit dari sebelumnya. Bukan hanya sekadar meletakkan bantal dan guling di posisi yang benar, tetapi juga membereskan seprai yang acak-acakan. Kita pun dapat meminta anak untuk memasang sarung bantal dan guling.
Selain membereskan tempat tidur, tugas lain yang dapat dikerjakan anak usia ini adalah membereskan kamar secara keseluruhan. Dari mengatur buku di meja belajar, membereskan peralatan kamarnya seperti tempat sampah, keset, dan pajangan-pajangan, hingga menyapu lantai kamar.
Membersihkan Kursi-Meja
Beri contoh bagaimana cara membersihkan meja-kursi yang terkena debu. Cara memegang kemoceng atau lap basah dan di bagian mana saja anak harus membersihkannya. Tetapi, bila anak menderita alergi debu sebaiknya hindari pekerjaan ini karena akan membuat alerginya kumat.
Membereskan Lemari Baju
Anak harus menjaga keteraturan letak baju, celana, pakaian dalam, kaus kaki, dan sebagainya. Meskipun banyak anak sulit melakukannya namun inilah latihan yang penting diberikan supaya anak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya.
Menyiram Tanaman
Tugas ini sangat mengasyikkan buat anak, terutama menyiram tanaman-tanaman mungil yang indah seperti tanaman bunga atau tanaman buah di dalam pot. Sebab, ada unsur air yang sangat disenangi anak. Manfaatkan kesenangan anak ini untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi ingatkan ia berapa takar air yang harus disiramkan ke pohon, tak berlebihan tapi juga tak terlalu sedikit.
USIA 9-12 TAHUN
Mencuci Piring
Awalnya, minta anak mencuci barang-barang yang tak mudah pecah, seperti gelas dan piring dari melamin/plastik. Supaya, ketika barang tersebut terlepas, tidak pecah dan tak membahayakan dirinya lantaran pecahan kacanya yang berserakan. Setelah anak sigap melakukannya, barulah kita tugaskan dia mencuci barang pecah belah. Tentu harus dipantau sampai anak benar-benar mahir melakukannya.
Membantu Memasak
Tugas utama memasak tetap berada pada kita atau pembantu karena berbahaya bila diserahkan ke anak. Tetapi bila ingin melibatkan anak, mintalah ia melakukan tugas yang ringan, seperti mencuci sayuran, merendam tempe dalam racikan bumbu, atau meletakkan masakan yang sudah siap saji di meja makan. Bagaimanapun, memasak termasuk pekerjaan yang butuh keterampilan penuh dan hal ini biasanya baru bisa dilakukan setelah anak dewasa. Bila dipaksakan dikhawatirkan akan membahayakan anak, terciprat minyak panas atau masakan menjadi gosong.
Mengepel
Kita bisa minta anak usia ini mengepel lantai, karena kemampuan motorik dan daya keseimbangan anak mulai sempurna. Dia bisa mendorong dan menarik tongkat kain pel dengan baik sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Beri tahu cara mengepel yang benar, misalnya bagaimana mendorong dan menarik dengan benar dan di mana posisi anak saat melakukannya supaya areal yang sudah dipel tak diinjak lagi.
Membantu Menyetrika
Menyetrika pun butuh keterampilan khusus supaya anak terhindar dari bahaya, seperti bahaya terkena panas setrikaan atau pakaian menjadi rusak karena terlalu lama terpapar panas setrika. Bila kita meminta anak untuk membantu, mintalah ia melakukan hal-hal yang mudah seperti melipat celana adik, menggantung pakaian di lemari, atau menyemprotkan pewangi/pelembut di baju sebelum disetrika. Untuk yang lainnya tetap harus kita atau pembantu yang melakukannya.
Membantu Mencuci Pakaian
Mencuci butuh ketelitian dan keterampilan lebih khusus. Mungkin saja ada kotoran yang membandel atau menempel di selipan-selipan baju. Anak usia ini umumnya tak terlalu teliti untuk memeriksanya sehingga banyak kotoran yang terlewat. Belum lagi dengan pengaturan saat mencuci, semisal memisahkan pakaian yang luntur dan tidak luntur, cara menyikat, berapa sendok sabun yang dibutuhkan, dan sebagainya. Tetapi bila kita mencuci dengan mesin cuci, kita bisa melibatkannya karena biasanya hal ini bisa dilakukan lebih mudah. Asal kita arahkan dahulu, berapa takar sabun yang harus dituang dalam sekali putar, cara menghidupkan dan mematikan mesin cuci, banyaknya air, dan sebagainya. Tentu, ketika anak melakukannya, kita tetap memantau agar tak terjadi kesalahan.
SEJUTA MANFAAT
Nah berikut ini sejumlah manfaat yang dapat dipetik anak:
Melatih Motorik : Banyak gerakan yang harus dilakukan saat anak mengerjakan pekerjaan rumah. Gerakan-gerakan ini sangat baik untuk melatih kemampuan motorik anak. Ibaratnya, anak sekaligus menstimulasi otak lewat gerakan-gerakan, disamping melemaskan otot-otot tubuhnya. Bila dilakukan secara konsisten, juga akan membugarkan tubuhnya.
Mandiri : Kemandirian antara anak yang terbiasa dilayani dan anak yang melayani dirinya sendiri jelas berbeda. Anak yang terbiasa dilayani selalu tergantung pada orang lain sedangkan anak yang melayani dirinya sendiri bisa memenuhi kebutuhan dirinya dengan kemampuannya sendiri. Karenanya, mendidik kemandirian anak sangat penting. Selain lebih bisa menolong diri sendiri, anak juga punya inisiatif jauh lebih baik untuk melakukan sesuatu.
Menjaga Kebersihan : Lingkungan yang bersih tentu sehat untuk tubuh. Sering kali kita tak bisa melakukannya sendiri tetapi harus dibantu anak. Bila kita mengajari anak untuk menyapu, mengepel, membersihkan kamar, dan lainnya, berarti kita sudah mengajarkan kebersihan kepadanya. Selain menjaga kebersihan, anak pun dididik untuk hidup rapi dan teratur.
Bertanggung Jawab : Saat kita memberi tugas ke anak untuk membereskan kamar setiap bangun tidur, misal, di situ akan tertanam sikap tanggung jawab. Sikap ini penting dipupuk sejak kecil supaya melekat dalam di diri anak. Anak yang punya tanggung jawab besar akan melakukan sesuatu hingga tuntas dan tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Ini adalah sikap yang sangat positif.
Tolong-menolong : Di rumah, mama bertugas memasak, kakak paling besar menyetrika pakaian, dan dia menyapu. Pembagian tugas ini menanamkan sikap gotong royong pada anak. Mereka saling bahu-membahu untuk melakukan banyak pekerjaan sehingga dapat dikerjakan dengan mudah. Menumbuhkan sikap saling tolong-menolong ini sangat baik sehingga kelak anak menjadi orang yang ringan tangan untuk menolong orang lain.
YANG PENTING DIPERHATIKAN
Orangtua Menjadi Model
Pertama yang harus kita lakukan adalah menjadi model bagi anak, yakni dengan melakukan pekerjaan rumah sendiri. Bagaimana mungkin kita meminta anak melakukannya tetapi kita sendiri malas? Tentu anak akan sulit diminta mengerjakan pekerjaan rumah.
Pendekatan ke Anak
Saat meminta anak melakukan tugasnya, dekatilah ia dengan persuasif. Terangkan kenapa anak harus melakukan tugas tersebut, misalnya dengan menjelaskan manfaat apa yang akan didapatnya. Lakukan hal ini secara intensif tanpa paksaan sampai anak mau melakukannya sendiri.
Sesuai Kemampuan
Jangan minta anak melakukan tugas berat dan sulit, tetapi minta ia melakukan tugas yang ringan supaya bisa dilakukannya dengan mudah. Perhatikan pula faktor kesehatan, anak penderita asma sebaiknya tidak disuruh menyapu karena debunya bisa membuat asmanya kumat.
Dibiasakan
Setelah anak mau melakukannya, kita perlu membiasakannya. Yaitu dengan memberi tugas rutin, misal, setiap bangun tidur harus membereskan kamarnya sendiri.
Anak-anak kita dipacu untuk menyongsong masa depan yang mapan, memiliki nilai lebih dan meyakinkan. Beberapa unsur yang sekarang ini ada di seputar anak-anak kita (secara khusus dampaknya terasa di kota-kota besar) adalah:
· perkembangan teknologi yang cepat berganti serta canggih,
· jam aktivitas di luar rumah yang panjang antara ayah dan ibu,
· tuntutan yang tinggi untuk mencapai masa depan yang mapan,
· kekerasan yang makin meningkat dan beragam,
· jauhnya jarak kegiatan anggota keluarga satu dengan yang lain.
Semua ini menimbulkan ketegangan dalam diri orangtua. Fungsi anak sebagai pengejar ilmu pengetahuan murni, membuat ia diperlengkapi dengan sekian banyak les tambahan. Sebagai akibat kesibukan tersebut, anak menjadi dibebaskan dari tanggung jawab serta latihan sosialisasi yang lain.
Jauhnya jarak dan kesempatan berkumpul yang makin terbatas antara suami dan istri, orangtua dan anak, sementara kekerasan ada di mana- mana, menimbulkan tingginya tingkat kecemasan di hati orangtua.
Kita cenderung untuk memberikan proteksi lengkap kepada anak-anak -- kalau tidak bisa dikatakan berlebihan. Di pihak lain, anak-anak sendiri pada akhirnya terbiasa dengan proteksi tersebut. Dengan dampingan "baby sitter" atau paling tidak para pembantu sebagai payung rasa aman dari orangtua yang keduanya bekerja.
Anak-anak pada akhirnya mempunyai atau menciptakan banyak "excuse" dalam hidupnya. Sementara itu orangtua juga cenderung untuk memberikan banyak toleransi terhadap kelalaian anak di banyak segi kehidupan (menaruh sepatu tidak pada tempatnya, tidak membantu mencuci piring, malas membereskan kamar sendiri, dll.)
Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sebenarnya apa peran orangtua/para pendidik dalam membangun kemandirian anak, berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita bersama:
1. Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orangtua yang memperlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orangtua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak. Jangan memberi pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk percaya bahwa dirinya "istimewa" dalam kekhasan mereka masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman- teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses pembentukan kepribadiannya di samping semua bekal fasilitas ilmu. Bimbingan rohani menjadi sangat penting dalam membekali anak untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya.
2. Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan. Orangtua yang mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa kanak- kanak adalah orangtua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya pada suatu landasan yang teguh. Sebab di tengah pelbagai situasi ketika anak jauh dari orangtuanya atau ketika ia harus menjawab sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat segera diatasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Kita belajar dari Samuel dan Timotius, kedua anak yang sejak masa kecil menerima bimbingan rohani yang kokoh dari ibunya, pada saat menghadapi perbagai pengaruh lingkungan, mereka dapat berdiri tangguh, mandiri, mampu menghadapi, dan melewati setiap pengaruh yang ada di sekitar hidupnya.
3. Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan tangung jawab dalam berbagai sektor kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan dirinya. Dalam hal ini, orangtua yang pada umumnya lebih banyak memberi waktu dan perhatian awal kepada anak di masa pertumbuhan, mempunyai andil yang cukup besar. Misalnya, biarkan anak-anak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.
4. Melatih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu dalam hidup dan melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut.
5. Jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orangtua dengan menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam ketakutan, orangtua menjadi berlebih-lebihan dalam memberi fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi gugup dan resah.
Menutup tulisan ini marilah kita bersama membangun karakter mandiri anak-anak melalui kesabaran, keteguhan hati, dan iman yang teguh kepada Tuhan. Biarlah hikmat memperlengkapi setiap kebijakan yang diambil orangtua untuk anak-anaknya, seperti kata Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
ADAPTED FROM:
http://www.jendelaanakku.net
Written by Mira D. Amir, Psi.,