The students are: Adifa - Adyatma - Alfi - Lala - Naya - Audifa - Lia - Ayyub - Dana - Fahri - Faris - Fatin - Azka - Marva - Ghani - Novit - Rizal - Silmy - Icha - Edris - Rafi - Keysha - Arva - Rona - Huda - Sekar - Selvy - Tengku - Tita - Shafa

Sunday, August 21, 2011

Melatih Kemandirian Anak


Orangtua memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan anak, misalnya makanan, pakaian, tempat tinggal, juga kasih sayang. Akan tetapi, tidak selamanya orangtua hadir sebagai penyedia kebutuhan anak. Oleh sebab itu tujuan utama membesarkan anak sesungguhnya adalah menyiapkannya menuju kehidupan sebagai individu dewasa kelak.
Sedikit demi sedikit anak mengalami proses pendewasaan agar tidak bergantung kepada orangtua. Melatih kemandirian anak perlu dilakukan sejak dini, tentunya dengan cara-cara yang sesuai usia dan perkembangan anak. Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk melatih kemandirian putra putri kita, siswa-siswi Kelas Ja'far yang usianya berkisar 7-9 tahun. Tapi, di sini akan kami bagi ke dalam 2 fase usia:


USIA 6-8 TAHUN

Menyapu

Menyapu dapat dilakukan dengan mudah, sehingga cocok untuk anak usia ini. Ajarkan bagaimana memegang dan menyapu secara benar. Dengan memberikan contoh sedikit, umumnya anak dapat melakukannya. Harap maklum bila dia belum mampu melakukannya dengan baik karena memang kemampuannya baru taraf segitu. Yang penting, anak sudah belajar untuk melakukan sesuatu yang positif bagi diri maupun lingkungan rumahnya.
Menyapu dapat dilakukan di dalam rumah maupun di halaman. Namun karena arealnya berbeda, kita pun perlu mengajarkan kembali. Misal, bagaimana supaya daun-daun kering yang jatuh di atas rumput bisa tersapu, anak harus menggunakan sapu lidi dan mendorongnya harus sambil diangkat sedikit.

Membereskan Kamar

Sejak usia prasekolah anak sudah bisa diajarkan bagaimana membereskan tempat tidur. Nah, di usia ini kita bisa mengajarkan hal yang lebih rumit dari sebelumnya. Bukan hanya sekadar meletakkan bantal dan guling di posisi yang benar, tetapi juga membereskan seprai yang acak-acakan. Kita pun dapat meminta anak untuk memasang sarung bantal dan guling.
Selain membereskan tempat tidur, tugas lain yang dapat dikerjakan anak usia ini adalah membereskan kamar secara keseluruhan. Dari mengatur buku di meja belajar, membereskan peralatan kamarnya seperti tempat sampah, keset, dan pajangan-pajangan, hingga menyapu lantai kamar.

Membersihkan Kursi-Meja

Beri contoh bagaimana cara membersihkan meja-kursi yang terkena debu. Cara memegang kemoceng atau lap basah dan di bagian mana saja anak harus membersihkannya. Tetapi, bila anak menderita alergi debu sebaiknya hindari pekerjaan ini karena akan membuat alerginya kumat.

Membereskan Lemari Baju

Anak harus menjaga keteraturan letak baju, celana, pakaian dalam, kaus kaki, dan sebagainya. Meskipun banyak anak sulit melakukannya namun inilah latihan yang penting diberikan supaya anak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya.
Menyiram Tanaman
Tugas ini sangat mengasyikkan buat anak, terutama menyiram tanaman-tanaman mungil yang indah seperti tanaman bunga atau tanaman buah di dalam pot. Sebab, ada unsur air yang sangat disenangi anak. Manfaatkan kesenangan anak ini untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi ingatkan ia berapa takar air yang harus disiramkan ke pohon, tak berlebihan tapi juga tak terlalu sedikit.


USIA 9-12 TAHUN

Mencuci Piring

Awalnya, minta anak mencuci barang-barang yang tak mudah pecah, seperti gelas dan piring dari melamin/plastik. Supaya, ketika barang tersebut terlepas, tidak pecah dan tak membahayakan dirinya lantaran pecahan kacanya yang berserakan. Setelah anak sigap melakukannya, barulah kita tugaskan dia mencuci barang pecah belah. Tentu harus dipantau sampai anak benar-benar mahir melakukannya.

Membantu Memasak

Tugas utama memasak tetap berada pada kita atau pembantu karena berbahaya bila diserahkan ke anak. Tetapi bila ingin melibatkan anak, mintalah ia melakukan tugas yang ringan, seperti mencuci sayuran, merendam tempe dalam racikan bumbu, atau meletakkan masakan yang sudah siap saji di meja makan. Bagaimanapun, memasak termasuk pekerjaan yang butuh keterampilan penuh dan hal ini biasanya baru bisa dilakukan setelah anak dewasa. Bila dipaksakan dikhawatirkan akan membahayakan anak, terciprat minyak panas atau masakan menjadi gosong.

Mengepel

Kita bisa minta anak usia ini mengepel lantai, karena kemampuan motorik dan daya keseimbangan anak mulai sempurna. Dia bisa mendorong dan menarik tongkat kain pel dengan baik sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Beri tahu cara mengepel yang benar, misalnya bagaimana mendorong dan menarik dengan benar dan di mana posisi anak saat melakukannya supaya areal yang sudah dipel tak diinjak lagi.

Membantu Menyetrika

Menyetrika pun butuh keterampilan khusus supaya anak terhindar dari bahaya, seperti bahaya terkena panas setrikaan atau pakaian menjadi rusak karena terlalu lama terpapar panas setrika. Bila kita meminta anak untuk membantu, mintalah ia melakukan hal-hal yang mudah seperti melipat celana adik, menggantung pakaian di lemari, atau menyemprotkan pewangi/pelembut di baju sebelum disetrika. Untuk yang lainnya tetap harus kita atau pembantu yang melakukannya.

Membantu Mencuci Pakaian

Mencuci butuh ketelitian dan keterampilan lebih khusus. Mungkin saja ada kotoran yang membandel atau menempel di selipan-selipan baju. Anak usia ini umumnya tak terlalu teliti untuk memeriksanya sehingga banyak kotoran yang terlewat. Belum lagi dengan pengaturan saat mencuci, semisal memisahkan pakaian yang luntur dan tidak luntur, cara menyikat, berapa sendok sabun yang dibutuhkan, dan sebagainya. Tetapi bila kita mencuci dengan mesin cuci, kita bisa melibatkannya karena biasanya hal ini bisa dilakukan lebih mudah. Asal kita arahkan dahulu, berapa takar sabun yang harus dituang dalam sekali putar, cara menghidupkan dan mematikan mesin cuci, banyaknya air, dan sebagainya. Tentu, ketika anak melakukannya, kita tetap memantau agar tak terjadi kesalahan.

SEJUTA MANFAAT

Nah berikut ini sejumlah manfaat yang dapat dipetik anak:

Melatih Motorik : Banyak gerakan yang harus dilakukan saat anak mengerjakan pekerjaan rumah. Gerakan-gerakan ini sangat baik untuk melatih kemampuan motorik anak. Ibaratnya, anak sekaligus menstimulasi otak lewat gerakan-gerakan, disamping melemaskan otot-otot tubuhnya. Bila dilakukan secara konsisten, juga akan membugarkan tubuhnya.
Mandiri : Kemandirian antara anak yang terbiasa dilayani dan anak yang melayani dirinya sendiri jelas berbeda. Anak yang terbiasa dilayani selalu tergantung pada orang lain sedangkan anak yang melayani dirinya sendiri bisa memenuhi kebutuhan dirinya dengan kemampuannya sendiri. Karenanya, mendidik kemandirian anak sangat penting. Selain lebih bisa menolong diri sendiri, anak juga punya inisiatif jauh lebih baik untuk melakukan sesuatu.
Menjaga Kebersihan : Lingkungan yang bersih tentu sehat untuk tubuh. Sering kali kita tak bisa melakukannya sendiri tetapi harus dibantu anak. Bila kita mengajari anak untuk menyapu, mengepel, membersihkan kamar, dan lainnya, berarti kita sudah mengajarkan kebersihan kepadanya. Selain menjaga kebersihan, anak pun dididik untuk hidup rapi dan teratur.
Bertanggung Jawab : Saat kita memberi tugas ke anak untuk membereskan kamar setiap bangun tidur, misal, di situ akan tertanam sikap tanggung jawab. Sikap ini penting dipupuk sejak kecil supaya melekat dalam di diri anak. Anak yang punya tanggung jawab besar akan melakukan sesuatu hingga tuntas dan tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Ini adalah sikap yang sangat positif.
Tolong-menolong : Di rumah, mama bertugas memasak, kakak paling besar menyetrika pakaian, dan dia menyapu. Pembagian tugas ini menanamkan sikap gotong royong pada anak. Mereka saling bahu-membahu untuk melakukan banyak pekerjaan sehingga dapat dikerjakan dengan mudah. Menumbuhkan sikap saling tolong-menolong ini sangat baik sehingga kelak anak menjadi orang yang ringan tangan untuk menolong orang lain.


YANG PENTING DIPERHATIKAN

Orangtua Menjadi Model

Pertama yang harus kita lakukan adalah menjadi model bagi anak, yakni dengan melakukan pekerjaan rumah sendiri. Bagaimana mungkin kita meminta anak melakukannya tetapi kita sendiri malas? Tentu anak akan sulit diminta mengerjakan pekerjaan rumah.

Pendekatan ke Anak

Saat meminta anak melakukan tugasnya, dekatilah ia dengan persuasif. Terangkan kenapa anak harus melakukan tugas tersebut, misalnya dengan menjelaskan manfaat apa yang akan didapatnya. Lakukan hal ini secara intensif tanpa paksaan sampai anak mau melakukannya sendiri.

Sesuai Kemampuan

Jangan minta anak melakukan tugas berat dan sulit, tetapi minta ia melakukan tugas yang ringan supaya bisa dilakukannya dengan mudah. Perhatikan pula faktor kesehatan, anak penderita asma sebaiknya tidak disuruh menyapu karena debunya bisa membuat asmanya kumat.

Dibiasakan

Setelah anak mau melakukannya, kita perlu membiasakannya. Yaitu dengan memberi tugas rutin, misal, setiap bangun tidur harus membereskan kamarnya sendiri.
Anak-anak kita dipacu untuk menyongsong masa depan yang mapan, memiliki nilai lebih dan meyakinkan. Beberapa unsur yang sekarang ini ada di seputar anak-anak kita (secara khusus dampaknya terasa di kota-kota besar) adalah:
· perkembangan teknologi yang cepat berganti serta canggih,
· jam aktivitas di luar rumah yang panjang antara ayah dan ibu,
· tuntutan yang tinggi untuk mencapai masa depan yang mapan,
· kekerasan yang makin meningkat dan beragam,
· jauhnya jarak kegiatan anggota keluarga satu dengan yang lain.


Semua ini menimbulkan ketegangan dalam diri orangtua. Fungsi anak sebagai pengejar ilmu pengetahuan murni, membuat ia diperlengkapi dengan sekian banyak les tambahan. Sebagai akibat kesibukan tersebut, anak menjadi dibebaskan dari tanggung jawab serta latihan sosialisasi yang lain.
Jauhnya jarak dan kesempatan berkumpul yang makin terbatas antara suami dan istri, orangtua dan anak, sementara kekerasan ada di mana- mana, menimbulkan tingginya tingkat kecemasan di hati orangtua.


Kita cenderung untuk memberikan proteksi lengkap kepada anak-anak -- kalau tidak bisa dikatakan berlebihan. Di pihak lain, anak-anak sendiri pada akhirnya terbiasa dengan proteksi tersebut. Dengan dampingan "baby sitter" atau paling tidak para pembantu sebagai payung rasa aman dari orangtua yang keduanya bekerja.
Anak-anak pada akhirnya mempunyai atau menciptakan banyak "excuse" dalam hidupnya. Sementara itu orangtua juga cenderung untuk memberikan banyak toleransi terhadap kelalaian anak di banyak segi kehidupan (menaruh sepatu tidak pada tempatnya, tidak membantu mencuci piring, malas membereskan kamar sendiri, dll.)


Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sebenarnya apa peran orangtua/para pendidik dalam membangun kemandirian anak, berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita bersama:


1. Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orangtua yang memperlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orangtua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak. Jangan memberi pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk percaya bahwa dirinya "istimewa" dalam kekhasan mereka masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman- teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses pembentukan kepribadiannya di samping semua bekal fasilitas ilmu. Bimbingan rohani menjadi sangat penting dalam membekali anak untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya.


2. Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan. Orangtua yang mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa kanak- kanak adalah orangtua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya pada suatu landasan yang teguh. Sebab di tengah pelbagai situasi ketika anak jauh dari orangtuanya atau ketika ia harus menjawab sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat segera diatasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Kita belajar dari Samuel dan Timotius, kedua anak yang sejak masa kecil menerima bimbingan rohani yang kokoh dari ibunya, pada saat menghadapi perbagai pengaruh lingkungan, mereka dapat berdiri tangguh, mandiri, mampu menghadapi, dan melewati setiap pengaruh yang ada di sekitar hidupnya.


3. Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan tangung jawab dalam berbagai sektor kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan dirinya. Dalam hal ini, orangtua yang pada umumnya lebih banyak memberi waktu dan perhatian awal kepada anak di masa pertumbuhan, mempunyai andil yang cukup besar. Misalnya, biarkan anak-anak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.


4. Melatih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu dalam hidup dan melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut.


5. Jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orangtua dengan menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam ketakutan, orangtua menjadi berlebih-lebihan dalam memberi fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi gugup dan resah.
Menutup tulisan ini marilah kita bersama membangun karakter mandiri anak-anak melalui kesabaran, keteguhan hati, dan iman yang teguh kepada Tuhan. Biarlah hikmat memperlengkapi setiap kebijakan yang diambil orangtua untuk anak-anaknya, seperti kata Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."

ADAPTED FROM:
http://www.jendelaanakku.net
Written by Mira D. Amir, Psi.,

Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim


Hafalan siswa Ja'far masih tergolong MASIH PERLU DIPACU lagi. Berikut ini Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim yang disampaikan oleh Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi. Mari kita coba untuk mempraktekkan metode dari beliau....

Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dan akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.

Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.

JIKA INGiN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.

BAGAIMANA CARANYA MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.
Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.

APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:
نُحَزِّبُهُ ثَلَاثَ سُوَرٍ وَخَمْسَ سُوَرٍ وَسَبْعَ سُوَرٍ وَتِسْعَ سُوَرٍ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سُورَةً وَثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً وَحِزْبَ الْمُفَصَّلِ مِنْ قَافْ حَتَّى يُخْتَمَ
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”فَمِي بِشَوْقٍ“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
- Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
- Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
- Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
- Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
- Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
- Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.

BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]

Monday, August 8, 2011

Tugas Perkembangan Anak Usia 7-9 Tahun

Tugas perkembangan anak adalah hal-hal yang harus dicapai oleh anak ketika ia menginjak level/jenjang usia tertentu. Dengan demikian, tugas perkembangan di setiap jenjang usia pasti akan berbeda-beda. MIsalnya, tugas perkembangan anak usia pra sekolah akan berbeda dengan tugas perkembangan anak usia sekolah atau remaja.

Tugas perkembangan ini, bisa menjadi patokan bagi kita orangtua dalam menilai pencapaian kematangan anak serta bisa menjadi panduan bagi orangtua dalam memfokuskan berbagai pencapaian kemampuan dan keterampilan yg harus dicapai anak dalam usianya.

Pencapaian tugas perkembangan ini sangat penting, karena bila gagal dalam mencapai satu tugas perkembangan untuk satu level usia, maka itu akan bisa banyak memberikan “PR” saat anak menginjak usia selanjutnya dengan tugas perkembangannya yg baru. Jd dgn kata lain, tugas perkembangan pd suatu level usia berhubungan erat dengan tugas perkembangan pada level usia yang lainnya.

Menurut Havighurst (1972), tugas perkembangan anak usia sekolah (6 – 12 tahun) antara lain adalah :
1. Belajar bergaul dan bekerja sama dalam kelompok sebaya
2. Mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung
3. Mengembangkan konsep-konsep penting dalam kehidupan sehari-hari
4. Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan system nilai sebagai pedoman perilaku
5. Belajar menjadi pribadi yang mandiri