Orangtua memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan anak, misalnya makanan, pakaian, tempat tinggal, juga kasih sayang. Akan tetapi, tidak selamanya orangtua hadir sebagai penyedia kebutuhan anak. Oleh sebab itu tujuan utama membesarkan anak sesungguhnya adalah menyiapkannya menuju kehidupan sebagai individu dewasa kelak.
Sedikit demi sedikit anak mengalami proses pendewasaan agar tidak bergantung kepada orangtua. Melatih kemandirian anak perlu dilakukan sejak dini, tentunya dengan cara-cara yang sesuai usia dan perkembangan anak. Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk melatih kemandirian putra putri kita, siswa-siswi Kelas Ja'far yang usianya berkisar 7-9 tahun. Tapi, di sini akan kami bagi ke dalam 2 fase usia:
USIA 6-8 TAHUN
Menyapu
Menyapu dapat dilakukan dengan mudah, sehingga cocok untuk anak usia ini. Ajarkan bagaimana memegang dan menyapu secara benar. Dengan memberikan contoh sedikit, umumnya anak dapat melakukannya. Harap maklum bila dia belum mampu melakukannya dengan baik karena memang kemampuannya baru taraf segitu. Yang penting, anak sudah belajar untuk melakukan sesuatu yang positif bagi diri maupun lingkungan rumahnya.
Menyapu dapat dilakukan di dalam rumah maupun di halaman. Namun karena arealnya berbeda, kita pun perlu mengajarkan kembali. Misal, bagaimana supaya daun-daun kering yang jatuh di atas rumput bisa tersapu, anak harus menggunakan sapu lidi dan mendorongnya harus sambil diangkat sedikit.
Membereskan Kamar
Sejak usia prasekolah anak sudah bisa diajarkan bagaimana membereskan tempat tidur. Nah, di usia ini kita bisa mengajarkan hal yang lebih rumit dari sebelumnya. Bukan hanya sekadar meletakkan bantal dan guling di posisi yang benar, tetapi juga membereskan seprai yang acak-acakan. Kita pun dapat meminta anak untuk memasang sarung bantal dan guling.
Selain membereskan tempat tidur, tugas lain yang dapat dikerjakan anak usia ini adalah membereskan kamar secara keseluruhan. Dari mengatur buku di meja belajar, membereskan peralatan kamarnya seperti tempat sampah, keset, dan pajangan-pajangan, hingga menyapu lantai kamar.
Membersihkan Kursi-Meja
Beri contoh bagaimana cara membersihkan meja-kursi yang terkena debu. Cara memegang kemoceng atau lap basah dan di bagian mana saja anak harus membersihkannya. Tetapi, bila anak menderita alergi debu sebaiknya hindari pekerjaan ini karena akan membuat alerginya kumat.
Membereskan Lemari Baju
Anak harus menjaga keteraturan letak baju, celana, pakaian dalam, kaus kaki, dan sebagainya. Meskipun banyak anak sulit melakukannya namun inilah latihan yang penting diberikan supaya anak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya.
Menyiram Tanaman
Tugas ini sangat mengasyikkan buat anak, terutama menyiram tanaman-tanaman mungil yang indah seperti tanaman bunga atau tanaman buah di dalam pot. Sebab, ada unsur air yang sangat disenangi anak. Manfaatkan kesenangan anak ini untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi ingatkan ia berapa takar air yang harus disiramkan ke pohon, tak berlebihan tapi juga tak terlalu sedikit.
USIA 9-12 TAHUN
Mencuci Piring
Awalnya, minta anak mencuci barang-barang yang tak mudah pecah, seperti gelas dan piring dari melamin/plastik. Supaya, ketika barang tersebut terlepas, tidak pecah dan tak membahayakan dirinya lantaran pecahan kacanya yang berserakan. Setelah anak sigap melakukannya, barulah kita tugaskan dia mencuci barang pecah belah. Tentu harus dipantau sampai anak benar-benar mahir melakukannya.
Membantu Memasak
Tugas utama memasak tetap berada pada kita atau pembantu karena berbahaya bila diserahkan ke anak. Tetapi bila ingin melibatkan anak, mintalah ia melakukan tugas yang ringan, seperti mencuci sayuran, merendam tempe dalam racikan bumbu, atau meletakkan masakan yang sudah siap saji di meja makan. Bagaimanapun, memasak termasuk pekerjaan yang butuh keterampilan penuh dan hal ini biasanya baru bisa dilakukan setelah anak dewasa. Bila dipaksakan dikhawatirkan akan membahayakan anak, terciprat minyak panas atau masakan menjadi gosong.
Mengepel
Kita bisa minta anak usia ini mengepel lantai, karena kemampuan motorik dan daya keseimbangan anak mulai sempurna. Dia bisa mendorong dan menarik tongkat kain pel dengan baik sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Beri tahu cara mengepel yang benar, misalnya bagaimana mendorong dan menarik dengan benar dan di mana posisi anak saat melakukannya supaya areal yang sudah dipel tak diinjak lagi.
Membantu Menyetrika
Menyetrika pun butuh keterampilan khusus supaya anak terhindar dari bahaya, seperti bahaya terkena panas setrikaan atau pakaian menjadi rusak karena terlalu lama terpapar panas setrika. Bila kita meminta anak untuk membantu, mintalah ia melakukan hal-hal yang mudah seperti melipat celana adik, menggantung pakaian di lemari, atau menyemprotkan pewangi/pelembut di baju sebelum disetrika. Untuk yang lainnya tetap harus kita atau pembantu yang melakukannya.
Membantu Mencuci Pakaian
Mencuci butuh ketelitian dan keterampilan lebih khusus. Mungkin saja ada kotoran yang membandel atau menempel di selipan-selipan baju. Anak usia ini umumnya tak terlalu teliti untuk memeriksanya sehingga banyak kotoran yang terlewat. Belum lagi dengan pengaturan saat mencuci, semisal memisahkan pakaian yang luntur dan tidak luntur, cara menyikat, berapa sendok sabun yang dibutuhkan, dan sebagainya. Tetapi bila kita mencuci dengan mesin cuci, kita bisa melibatkannya karena biasanya hal ini bisa dilakukan lebih mudah. Asal kita arahkan dahulu, berapa takar sabun yang harus dituang dalam sekali putar, cara menghidupkan dan mematikan mesin cuci, banyaknya air, dan sebagainya. Tentu, ketika anak melakukannya, kita tetap memantau agar tak terjadi kesalahan.
SEJUTA MANFAAT
Nah berikut ini sejumlah manfaat yang dapat dipetik anak:
Melatih Motorik : Banyak gerakan yang harus dilakukan saat anak mengerjakan pekerjaan rumah. Gerakan-gerakan ini sangat baik untuk melatih kemampuan motorik anak. Ibaratnya, anak sekaligus menstimulasi otak lewat gerakan-gerakan, disamping melemaskan otot-otot tubuhnya. Bila dilakukan secara konsisten, juga akan membugarkan tubuhnya.
Mandiri : Kemandirian antara anak yang terbiasa dilayani dan anak yang melayani dirinya sendiri jelas berbeda. Anak yang terbiasa dilayani selalu tergantung pada orang lain sedangkan anak yang melayani dirinya sendiri bisa memenuhi kebutuhan dirinya dengan kemampuannya sendiri. Karenanya, mendidik kemandirian anak sangat penting. Selain lebih bisa menolong diri sendiri, anak juga punya inisiatif jauh lebih baik untuk melakukan sesuatu.
Menjaga Kebersihan : Lingkungan yang bersih tentu sehat untuk tubuh. Sering kali kita tak bisa melakukannya sendiri tetapi harus dibantu anak. Bila kita mengajari anak untuk menyapu, mengepel, membersihkan kamar, dan lainnya, berarti kita sudah mengajarkan kebersihan kepadanya. Selain menjaga kebersihan, anak pun dididik untuk hidup rapi dan teratur.
Bertanggung Jawab : Saat kita memberi tugas ke anak untuk membereskan kamar setiap bangun tidur, misal, di situ akan tertanam sikap tanggung jawab. Sikap ini penting dipupuk sejak kecil supaya melekat dalam di diri anak. Anak yang punya tanggung jawab besar akan melakukan sesuatu hingga tuntas dan tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Ini adalah sikap yang sangat positif.
Tolong-menolong : Di rumah, mama bertugas memasak, kakak paling besar menyetrika pakaian, dan dia menyapu. Pembagian tugas ini menanamkan sikap gotong royong pada anak. Mereka saling bahu-membahu untuk melakukan banyak pekerjaan sehingga dapat dikerjakan dengan mudah. Menumbuhkan sikap saling tolong-menolong ini sangat baik sehingga kelak anak menjadi orang yang ringan tangan untuk menolong orang lain.
YANG PENTING DIPERHATIKAN
Orangtua Menjadi Model
Pertama yang harus kita lakukan adalah menjadi model bagi anak, yakni dengan melakukan pekerjaan rumah sendiri. Bagaimana mungkin kita meminta anak melakukannya tetapi kita sendiri malas? Tentu anak akan sulit diminta mengerjakan pekerjaan rumah.
Pendekatan ke Anak
Saat meminta anak melakukan tugasnya, dekatilah ia dengan persuasif. Terangkan kenapa anak harus melakukan tugas tersebut, misalnya dengan menjelaskan manfaat apa yang akan didapatnya. Lakukan hal ini secara intensif tanpa paksaan sampai anak mau melakukannya sendiri.
Sesuai Kemampuan
Jangan minta anak melakukan tugas berat dan sulit, tetapi minta ia melakukan tugas yang ringan supaya bisa dilakukannya dengan mudah. Perhatikan pula faktor kesehatan, anak penderita asma sebaiknya tidak disuruh menyapu karena debunya bisa membuat asmanya kumat.
Dibiasakan
Setelah anak mau melakukannya, kita perlu membiasakannya. Yaitu dengan memberi tugas rutin, misal, setiap bangun tidur harus membereskan kamarnya sendiri.
Anak-anak kita dipacu untuk menyongsong masa depan yang mapan, memiliki nilai lebih dan meyakinkan. Beberapa unsur yang sekarang ini ada di seputar anak-anak kita (secara khusus dampaknya terasa di kota-kota besar) adalah:
· perkembangan teknologi yang cepat berganti serta canggih,
· jam aktivitas di luar rumah yang panjang antara ayah dan ibu,
· tuntutan yang tinggi untuk mencapai masa depan yang mapan,
· kekerasan yang makin meningkat dan beragam,
· jauhnya jarak kegiatan anggota keluarga satu dengan yang lain.
Semua ini menimbulkan ketegangan dalam diri orangtua. Fungsi anak sebagai pengejar ilmu pengetahuan murni, membuat ia diperlengkapi dengan sekian banyak les tambahan. Sebagai akibat kesibukan tersebut, anak menjadi dibebaskan dari tanggung jawab serta latihan sosialisasi yang lain.
Jauhnya jarak dan kesempatan berkumpul yang makin terbatas antara suami dan istri, orangtua dan anak, sementara kekerasan ada di mana- mana, menimbulkan tingginya tingkat kecemasan di hati orangtua.
Kita cenderung untuk memberikan proteksi lengkap kepada anak-anak -- kalau tidak bisa dikatakan berlebihan. Di pihak lain, anak-anak sendiri pada akhirnya terbiasa dengan proteksi tersebut. Dengan dampingan "baby sitter" atau paling tidak para pembantu sebagai payung rasa aman dari orangtua yang keduanya bekerja.
Anak-anak pada akhirnya mempunyai atau menciptakan banyak "excuse" dalam hidupnya. Sementara itu orangtua juga cenderung untuk memberikan banyak toleransi terhadap kelalaian anak di banyak segi kehidupan (menaruh sepatu tidak pada tempatnya, tidak membantu mencuci piring, malas membereskan kamar sendiri, dll.)
Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sebenarnya apa peran orangtua/para pendidik dalam membangun kemandirian anak, berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita bersama:
1. Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orangtua yang memperlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orangtua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak. Jangan memberi pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk percaya bahwa dirinya "istimewa" dalam kekhasan mereka masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman- teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses pembentukan kepribadiannya di samping semua bekal fasilitas ilmu. Bimbingan rohani menjadi sangat penting dalam membekali anak untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya.
2. Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan. Orangtua yang mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa kanak- kanak adalah orangtua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya pada suatu landasan yang teguh. Sebab di tengah pelbagai situasi ketika anak jauh dari orangtuanya atau ketika ia harus menjawab sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat segera diatasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Kita belajar dari Samuel dan Timotius, kedua anak yang sejak masa kecil menerima bimbingan rohani yang kokoh dari ibunya, pada saat menghadapi perbagai pengaruh lingkungan, mereka dapat berdiri tangguh, mandiri, mampu menghadapi, dan melewati setiap pengaruh yang ada di sekitar hidupnya.
3. Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan tangung jawab dalam berbagai sektor kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan dirinya. Dalam hal ini, orangtua yang pada umumnya lebih banyak memberi waktu dan perhatian awal kepada anak di masa pertumbuhan, mempunyai andil yang cukup besar. Misalnya, biarkan anak-anak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.
4. Melatih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu dalam hidup dan melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut.
5. Jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orangtua dengan menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam ketakutan, orangtua menjadi berlebih-lebihan dalam memberi fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi gugup dan resah.
Menutup tulisan ini marilah kita bersama membangun karakter mandiri anak-anak melalui kesabaran, keteguhan hati, dan iman yang teguh kepada Tuhan. Biarlah hikmat memperlengkapi setiap kebijakan yang diambil orangtua untuk anak-anaknya, seperti kata Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
ADAPTED FROM:
http://www.jendelaanakku.net
Written by Mira D. Amir, Psi.,











