Tuesday, February 28, 2012
Melatih Si Kecil Mengatasi Konflik
Hampir tiap hari anak Anda mungkin bertengkar, entah dengan anak tetangga maupun adiknya. Yang rebutan mainanlah, tak mau membagi kuenya, maupun rebutan tempat duduk, dan sebagainya.
Daripada pusing mendamaikan mereka melulu, kenapa tak mencoba untuk mengajari anak mengatasi atau menghindari konflik-konfliknya? Apalagi, seperti dikatakan psikolog dra. Tjut Rifameutia U.Ali-Nafis, MA, mengajari anak-anak menyelesaikan konflik sebaiknya dilakukan sejak dini agar setelah besar mereka terlatih menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebab, untuk melatih anak menyelesaikan konflik berarti juga melatih anak mengontrol kemarahan dan emosinya. Bukankah kekerasan terjadi lantaran orang tak bisa mengendalikan amarah dan emosinya? "Tapi tentu ini bukan sesuatu yang mudah," ujar Tia, panggilan akrabnya. Terlebih lagi ciri anak-anak adalah kepolosan.
"Kalau mereka mau marah, ya, marah saja, tak perlu menunggu atau menundanya alias tak perlu kontrol diri segala. Hal ini disebabkan mereka belum tahu aturan main dalam kehidupan," lanjut staf Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UI. Itulah mengapa, kita perlu mengajarinya. Memang, tambah Tia, anak bisa belajar dari pengamatan, "tapi kalau salah persepsi, bagaimana?"
Disamping itu, jika kita tak mengajarkan, saat anak besar nanti bisa mengganggu hubungan sosialnya. "Saat di sekolah, guru-gurunya akan kesulitan dalam menghadapi si anak. Di kelas ia bisa jadi pemarah, suka menjerit-jerit dan memukul temannya. Nah, lambat-laun ia bisa kehilangan teman, kan?" Ia pun bisa diberi label oleh teman-temannya, entah sebagai si pemarah atau si brengsek, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, akhirnya akan mengganggu perkembangan konsep dirinya. "Bisa-bisa ia akan bersikap, kalau aku enggak marah maka bukan aku lagi."
ETIKA BERGAUL
Jadi, Bu-Pak, betapa penting mengajari anak mengatasi maupun menghindari konflik. Kendatipun tak mudah, namun percayalah, kita pasti bisa melakukannya. Caranya dengan mengajak anak berdialog. Bukankah di usia prasekolah ia sudah bisa diajak berdialog? "Jelaskan pada anak tentang etika bergaul seperti bagaimana akibatnya jika mereka selalu berebut dan tak mau berbagi, apalagi sampai bertengkar dan memukul," tutur Tia.
Ajarkan pula untuk bertenggang rasa dan berempati pada perasaan orang lain, juga pentingnya sikap saling memaafkan. Tapi tentu tak cukup hanya bila dilakukan lewat dialog karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak akan lebih efektif bila dilakukan juga lewat contoh sehari-hari dari orang tua. "Orang tua tentunya pasti pernah bertengkar atau berargumentasi di depan anak-anak, kan? Nah, pastikan anak-anak melihat kedua orang tuanya saling meminta maaf dan saling memperbaiki diri seusai bertengkar." Jangan lupa untuk selalu mengajari anak-anak meminta maaf dan berdamai seusai bertengkar. Disamping itu, media bantu seperti buku-buku cerita atau film yang memperlihatkan nilai-nilai tersebut juga akan sangat membantu dalam mengajarkannya.
LATIH MEMECAHKAN MASALAH
Selanjutnya, yang harus kita lakukan ialah melatih anak memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, bila anak-anak sedang bertengkar, biarkan saja dulu, tak perlu tergesa-gesa mencampuri urusan mereka. "Barulah jika pertengkaran itu sudah mengarah ke hal-hal yang membahayakan, orang tua harus segera menghentikannya," kata Tia. Misalnya, pertengkaran mengarah ke perkelahian atau bertengkar dengan kata-kata yang tak semestinya dilontarkan anak seusia itu.
Kala menengahi pun kita tak perlu buru-buru memberikan jalan keluar. Tanyai dulu keduanya, apa yang kalian ributkan? "Jadi orang tua masuk dan mereka diajak diskusi agar lebih tenang dan tak main mulut begitu saja." Setelah salah satu bercerita, tanyai lagi lainnya, apakah itu benar? "Dengan demikian mencegah mereka menjadi pengadu." Lantas, tanyai, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik. Tentunya masing-masing akan mengemukakan argumennya.
Nah, saat itulah kita harus menunjukkan bagaimana bisa menyelesaikan konflik meski berbeda sudut pandang, "Kalau menurutmu, mungkin pendapatmu itu yang benar. Tapi coba kita lihat dari pendapat temanmu." Misalnya, mereka berebut main di ayunan taman yang menjadi milik umum. Jelaskan, "Barang ini memang milik orang banyak. Jadi, semua orang boleh memakainya, baik kamu maupun temanmu. Nah, karena semua orang boleh pakai, maka berarti ini bukan milikmu sendiri, kamu tak boleh pegang terus mainan ini. Temanmu pun harus mendapat giliran pakai, kan?" Jadi, buat mereka berdialog sehingga masing-masing akan mengerti apa maunya orang lain. Kemudian, tanyai atau dorong mereka untuk mencapai kesepakatan bersama agar keduanya dapat memakai ayunan itu bersama.
"Karena temanmu duluan yang memegang ayunan itu, bagaimana kalau 10 menit pertama temanmu yang naik duluan dan kamu yang mendorongnya. Setelah itu ganti kamu yang naik dan temanmu yang dorong, setuju?" Bisa juga dengan membuat aturan bersama. Misalnya, "Lain kali gini, deh , siapa yang pegang ayunan duluan , ia yang berhak main duluan. Yang lain dilarang menyerobot." Kalau mereka tanya, kenapa? Terangkan, "Bagaimana perasaanmu jika kamu sedang asyik bermain terus ada orang yang merebut mainanmu, kamu juga tak suka, kan?"
EMPATI DAN TOLERANSI
Bila anak masih tak bisa mengontrol emosinya, bimbinglah ia untuk mengarahkan emosinya. Katakan, misalnya, "Bunda mengerti Kakak marah karena Tati terus memainkan ayunan itu tanpa memberimu kesempatan untuk memainkannya. Barangkali Tati memang sudah lama ingin bermain ayunan. Coba, deh, bayangin kalau Kakak sudah lama ingin main ayunan, tentunya Kakak enggak cukup puas kalau mainnya sebentar, kan?"
"Jadi, anak senantiasa dilatih untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan berempati pada perasaan orang lain agar tak menjadi egois," tutur Tia. Menurut Tia, tak sulit, kok, melatih rasa empati pada anak. Kala bonekanya jatuh, misalnya, mintalah ia untuk memeluknya, "Duh, kasihan, pasti sakit sekali kakinya. Coba dielus-elus." Begitu juga kala kucingnya mengeong, misalnya, kita bisa menunjukkan, "Mungkin si Pus lapar, ya, sehingga mengeong terus. Yuk, kita kasih makan." Dari sini, perlahan-lahan akan tumbuh rasa empatinya.
"Ia terlatih untuk memahami kesulitan makhluk lain dan perasaan orang lain. Dengan empati yang berjalan baik, lambat laun kontrol dirinya juga jadi baik," terang Tia. Ia pun akan makin mengerti, mengapa orang lain melakukan tindakan berbeda dengannya. Sehingga, betapapun juga ia tak setuju dengan tindakan orang lain, ia akan berusaha berpikir seperti cara orang tersebut berpikir. Dengan begitu, konflik yang keras dapat dihindari. Tapi tentu kita juga perlu mengajarinya toleransi. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajari anak untuk saling berbagi sejak dini sehingga sikap toleransi akan mendarah daging dalam perilakunya.
"Mulailah dengan mengajari anak untuk membagi kue atau mainannya dengan adik atau teman-temannya." Yang tak kalah penting ialah mengajarkan keluwesan dalam menghadapi persoalan. Misalnya, ia tak mau membereskan mainannya setelah selesai bermain, "jangan lantas memberinya ultimatum, tapi berilah alternatif waktu untuk memilih waktu yang tepat dalam membereskannya, 'Bagaimana kalau sehabis menonton film kartun kamu membereskannya?'"
Jadi, ada fleksibelitas dalam menangani sesuatu. Dengan selalu mengajarkan keluwesan atau fleksibelitas, anak tak akan mudah meledak marah kala temannya tak mentaati aturan main yang telah mereka buat. Bukankah ia sudah terbiasa dengan ajaran, selalu ada jalan keluar lain manakala ada kesepakatan yang meleset?
BERSIKAP ADIL
Tentu kita juga perlu bertindak tegas terhadap perbuatannya yang salah saat meluapkan amarahnya. Misalnya, ia suka memukul. Nah, jelaskan padanya bahwa ia mesti menghilangkan kebiasaan buruknya memukul teman atau adiknya. Jika masih terulang lagi, maka ada konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kegemarannya di TV, tak boleh makan es krim selama seminggu, dan sebagainya.
Tapi ingat, pesan Tia, kita harus adil dalam hal ini. "Jika yang bertengkar adalah kakak-adik, maka siapa pun yang jadi biang keroknya, ia tetap anak Anda. Jadi, tetaplah berdiri di tengah dan jangan berpihak." Kalaupun mereka harus dihukum, hukumlah dengan sama rata. "Jangan si kakak saja yang dihukum, lantas si adik tidak. Karena sikap ketakadilan akan sangat membekas di hati anak."
Jadi, lebih baik berdiri di tengah dan lakukan negosiasi dengan mereka dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya. Jika tak bisa diatasi, kita bisa menyita benda yang dijadikan rebutan. Mungkin mulanya mereka akan tambah ribut dan memprotes tindakan ini, tapi kita tetap harus tegas. "Anak-anak perlu tahu, jika mereka terus ribut dan tak ada yang mau mengalah atau bergantian main, maka benda itu sama sekali tak boleh dimainkan." Lain halnya jika mereka dapat menegosiasikan cara bermainnya sehingga tak berebut atau bahkan malah hendak bermain bersama. Cara lain, meminimalkan kemungkinan terjadinya keributan. Misalnya, bila anak memang tak suka meminjamkan mainan kesukaannya pada orang lain, ya, jangan keluarkan benda itu kala teman-temannya datang. Dengan demikian, konflik sama sekali tak muncul.
Indah Mulatsih/nakita
Wednesday, January 18, 2012
Melatih Kepribadian Anak dengan PR

Pekerjaan Rumah atau PR dapat mendidik kepribadian anak. Anda dapat menggunakan cara ini apabila anda memiliki sedikit waktu untuk menanamkan nilai-nilai positif pada karakter mereka.
Melakukan yang terbaik
Mereka akan diajarkan untuk memberikan kemampuan terbaik walau mereka bukan anak yang pintar.
Patuh
Menulis dengan rapi sesuai dengan petunjuk guru dapat membuat anak patuh. Dengan mengikuti semua aturan maka hasilnya akan baik.
Adil
Untuk mendapatkan nilai baik maka kerja keras sangat diperlukan. Artinya apa yang anak anda tabur pasti akan menuai dengan hasil yang sesuai dengan hasil kerja mereka.
Disiplin
Mengerjakan PR terlebih dahulu baru boleh bermain akan mengajarkan anak anda untuk disiplin. Sehingga anak anda juga belajar untuk mengendalikan diri. Lebih mementingkan yang utama daripada yang tidak prioritas
Rajin
Dengan PR anak anda akan dituntut untuk rajin dan mengerjakannya dengan penuh perhatian.
Tepat waktu
PR harus diselesaikan pada waktu yang sudah ditentukan. Dengan mengajarkan tepat waktu berarti memberikan anak anda untuk menghargai waktu serta orang lain.
Tanggungjawab
Biarkan anak anda yang mengerjakan PR mereka. Anda hanya cukup mengawasi saja. Karena PR ini tugas mereka sehingga mereka harus bertanggung jawab.
taken from http://www.klikini.com/mendidik-anak-melalui-pr.html/
Sunday, August 21, 2011
Melatih Kemandirian Anak
Orangtua memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan anak, misalnya makanan, pakaian, tempat tinggal, juga kasih sayang. Akan tetapi, tidak selamanya orangtua hadir sebagai penyedia kebutuhan anak. Oleh sebab itu tujuan utama membesarkan anak sesungguhnya adalah menyiapkannya menuju kehidupan sebagai individu dewasa kelak.
Sedikit demi sedikit anak mengalami proses pendewasaan agar tidak bergantung kepada orangtua. Melatih kemandirian anak perlu dilakukan sejak dini, tentunya dengan cara-cara yang sesuai usia dan perkembangan anak. Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk melatih kemandirian putra putri kita, siswa-siswi Kelas Ja'far yang usianya berkisar 7-9 tahun. Tapi, di sini akan kami bagi ke dalam 2 fase usia:
USIA 6-8 TAHUN
Menyapu
Menyapu dapat dilakukan dengan mudah, sehingga cocok untuk anak usia ini. Ajarkan bagaimana memegang dan menyapu secara benar. Dengan memberikan contoh sedikit, umumnya anak dapat melakukannya. Harap maklum bila dia belum mampu melakukannya dengan baik karena memang kemampuannya baru taraf segitu. Yang penting, anak sudah belajar untuk melakukan sesuatu yang positif bagi diri maupun lingkungan rumahnya.
Menyapu dapat dilakukan di dalam rumah maupun di halaman. Namun karena arealnya berbeda, kita pun perlu mengajarkan kembali. Misal, bagaimana supaya daun-daun kering yang jatuh di atas rumput bisa tersapu, anak harus menggunakan sapu lidi dan mendorongnya harus sambil diangkat sedikit.
Membereskan Kamar
Sejak usia prasekolah anak sudah bisa diajarkan bagaimana membereskan tempat tidur. Nah, di usia ini kita bisa mengajarkan hal yang lebih rumit dari sebelumnya. Bukan hanya sekadar meletakkan bantal dan guling di posisi yang benar, tetapi juga membereskan seprai yang acak-acakan. Kita pun dapat meminta anak untuk memasang sarung bantal dan guling.
Selain membereskan tempat tidur, tugas lain yang dapat dikerjakan anak usia ini adalah membereskan kamar secara keseluruhan. Dari mengatur buku di meja belajar, membereskan peralatan kamarnya seperti tempat sampah, keset, dan pajangan-pajangan, hingga menyapu lantai kamar.
Membersihkan Kursi-Meja
Beri contoh bagaimana cara membersihkan meja-kursi yang terkena debu. Cara memegang kemoceng atau lap basah dan di bagian mana saja anak harus membersihkannya. Tetapi, bila anak menderita alergi debu sebaiknya hindari pekerjaan ini karena akan membuat alerginya kumat.
Membereskan Lemari Baju
Anak harus menjaga keteraturan letak baju, celana, pakaian dalam, kaus kaki, dan sebagainya. Meskipun banyak anak sulit melakukannya namun inilah latihan yang penting diberikan supaya anak bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya.
Menyiram Tanaman
Tugas ini sangat mengasyikkan buat anak, terutama menyiram tanaman-tanaman mungil yang indah seperti tanaman bunga atau tanaman buah di dalam pot. Sebab, ada unsur air yang sangat disenangi anak. Manfaatkan kesenangan anak ini untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi ingatkan ia berapa takar air yang harus disiramkan ke pohon, tak berlebihan tapi juga tak terlalu sedikit.
USIA 9-12 TAHUN
Mencuci Piring
Awalnya, minta anak mencuci barang-barang yang tak mudah pecah, seperti gelas dan piring dari melamin/plastik. Supaya, ketika barang tersebut terlepas, tidak pecah dan tak membahayakan dirinya lantaran pecahan kacanya yang berserakan. Setelah anak sigap melakukannya, barulah kita tugaskan dia mencuci barang pecah belah. Tentu harus dipantau sampai anak benar-benar mahir melakukannya.
Membantu Memasak
Tugas utama memasak tetap berada pada kita atau pembantu karena berbahaya bila diserahkan ke anak. Tetapi bila ingin melibatkan anak, mintalah ia melakukan tugas yang ringan, seperti mencuci sayuran, merendam tempe dalam racikan bumbu, atau meletakkan masakan yang sudah siap saji di meja makan. Bagaimanapun, memasak termasuk pekerjaan yang butuh keterampilan penuh dan hal ini biasanya baru bisa dilakukan setelah anak dewasa. Bila dipaksakan dikhawatirkan akan membahayakan anak, terciprat minyak panas atau masakan menjadi gosong.
Mengepel
Kita bisa minta anak usia ini mengepel lantai, karena kemampuan motorik dan daya keseimbangan anak mulai sempurna. Dia bisa mendorong dan menarik tongkat kain pel dengan baik sambil menjaga keseimbangan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Beri tahu cara mengepel yang benar, misalnya bagaimana mendorong dan menarik dengan benar dan di mana posisi anak saat melakukannya supaya areal yang sudah dipel tak diinjak lagi.
Membantu Menyetrika
Menyetrika pun butuh keterampilan khusus supaya anak terhindar dari bahaya, seperti bahaya terkena panas setrikaan atau pakaian menjadi rusak karena terlalu lama terpapar panas setrika. Bila kita meminta anak untuk membantu, mintalah ia melakukan hal-hal yang mudah seperti melipat celana adik, menggantung pakaian di lemari, atau menyemprotkan pewangi/pelembut di baju sebelum disetrika. Untuk yang lainnya tetap harus kita atau pembantu yang melakukannya.
Membantu Mencuci Pakaian
Mencuci butuh ketelitian dan keterampilan lebih khusus. Mungkin saja ada kotoran yang membandel atau menempel di selipan-selipan baju. Anak usia ini umumnya tak terlalu teliti untuk memeriksanya sehingga banyak kotoran yang terlewat. Belum lagi dengan pengaturan saat mencuci, semisal memisahkan pakaian yang luntur dan tidak luntur, cara menyikat, berapa sendok sabun yang dibutuhkan, dan sebagainya. Tetapi bila kita mencuci dengan mesin cuci, kita bisa melibatkannya karena biasanya hal ini bisa dilakukan lebih mudah. Asal kita arahkan dahulu, berapa takar sabun yang harus dituang dalam sekali putar, cara menghidupkan dan mematikan mesin cuci, banyaknya air, dan sebagainya. Tentu, ketika anak melakukannya, kita tetap memantau agar tak terjadi kesalahan.
SEJUTA MANFAAT
Nah berikut ini sejumlah manfaat yang dapat dipetik anak:
Melatih Motorik : Banyak gerakan yang harus dilakukan saat anak mengerjakan pekerjaan rumah. Gerakan-gerakan ini sangat baik untuk melatih kemampuan motorik anak. Ibaratnya, anak sekaligus menstimulasi otak lewat gerakan-gerakan, disamping melemaskan otot-otot tubuhnya. Bila dilakukan secara konsisten, juga akan membugarkan tubuhnya.
Mandiri : Kemandirian antara anak yang terbiasa dilayani dan anak yang melayani dirinya sendiri jelas berbeda. Anak yang terbiasa dilayani selalu tergantung pada orang lain sedangkan anak yang melayani dirinya sendiri bisa memenuhi kebutuhan dirinya dengan kemampuannya sendiri. Karenanya, mendidik kemandirian anak sangat penting. Selain lebih bisa menolong diri sendiri, anak juga punya inisiatif jauh lebih baik untuk melakukan sesuatu.
Menjaga Kebersihan : Lingkungan yang bersih tentu sehat untuk tubuh. Sering kali kita tak bisa melakukannya sendiri tetapi harus dibantu anak. Bila kita mengajari anak untuk menyapu, mengepel, membersihkan kamar, dan lainnya, berarti kita sudah mengajarkan kebersihan kepadanya. Selain menjaga kebersihan, anak pun dididik untuk hidup rapi dan teratur.
Bertanggung Jawab : Saat kita memberi tugas ke anak untuk membereskan kamar setiap bangun tidur, misal, di situ akan tertanam sikap tanggung jawab. Sikap ini penting dipupuk sejak kecil supaya melekat dalam di diri anak. Anak yang punya tanggung jawab besar akan melakukan sesuatu hingga tuntas dan tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Ini adalah sikap yang sangat positif.
Tolong-menolong : Di rumah, mama bertugas memasak, kakak paling besar menyetrika pakaian, dan dia menyapu. Pembagian tugas ini menanamkan sikap gotong royong pada anak. Mereka saling bahu-membahu untuk melakukan banyak pekerjaan sehingga dapat dikerjakan dengan mudah. Menumbuhkan sikap saling tolong-menolong ini sangat baik sehingga kelak anak menjadi orang yang ringan tangan untuk menolong orang lain.
YANG PENTING DIPERHATIKAN
Orangtua Menjadi Model
Pertama yang harus kita lakukan adalah menjadi model bagi anak, yakni dengan melakukan pekerjaan rumah sendiri. Bagaimana mungkin kita meminta anak melakukannya tetapi kita sendiri malas? Tentu anak akan sulit diminta mengerjakan pekerjaan rumah.
Pendekatan ke Anak
Saat meminta anak melakukan tugasnya, dekatilah ia dengan persuasif. Terangkan kenapa anak harus melakukan tugas tersebut, misalnya dengan menjelaskan manfaat apa yang akan didapatnya. Lakukan hal ini secara intensif tanpa paksaan sampai anak mau melakukannya sendiri.
Sesuai Kemampuan
Jangan minta anak melakukan tugas berat dan sulit, tetapi minta ia melakukan tugas yang ringan supaya bisa dilakukannya dengan mudah. Perhatikan pula faktor kesehatan, anak penderita asma sebaiknya tidak disuruh menyapu karena debunya bisa membuat asmanya kumat.
Dibiasakan
Setelah anak mau melakukannya, kita perlu membiasakannya. Yaitu dengan memberi tugas rutin, misal, setiap bangun tidur harus membereskan kamarnya sendiri.
Anak-anak kita dipacu untuk menyongsong masa depan yang mapan, memiliki nilai lebih dan meyakinkan. Beberapa unsur yang sekarang ini ada di seputar anak-anak kita (secara khusus dampaknya terasa di kota-kota besar) adalah:
· perkembangan teknologi yang cepat berganti serta canggih,
· jam aktivitas di luar rumah yang panjang antara ayah dan ibu,
· tuntutan yang tinggi untuk mencapai masa depan yang mapan,
· kekerasan yang makin meningkat dan beragam,
· jauhnya jarak kegiatan anggota keluarga satu dengan yang lain.
Semua ini menimbulkan ketegangan dalam diri orangtua. Fungsi anak sebagai pengejar ilmu pengetahuan murni, membuat ia diperlengkapi dengan sekian banyak les tambahan. Sebagai akibat kesibukan tersebut, anak menjadi dibebaskan dari tanggung jawab serta latihan sosialisasi yang lain.
Jauhnya jarak dan kesempatan berkumpul yang makin terbatas antara suami dan istri, orangtua dan anak, sementara kekerasan ada di mana- mana, menimbulkan tingginya tingkat kecemasan di hati orangtua.
Kita cenderung untuk memberikan proteksi lengkap kepada anak-anak -- kalau tidak bisa dikatakan berlebihan. Di pihak lain, anak-anak sendiri pada akhirnya terbiasa dengan proteksi tersebut. Dengan dampingan "baby sitter" atau paling tidak para pembantu sebagai payung rasa aman dari orangtua yang keduanya bekerja.
Anak-anak pada akhirnya mempunyai atau menciptakan banyak "excuse" dalam hidupnya. Sementara itu orangtua juga cenderung untuk memberikan banyak toleransi terhadap kelalaian anak di banyak segi kehidupan (menaruh sepatu tidak pada tempatnya, tidak membantu mencuci piring, malas membereskan kamar sendiri, dll.)
Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sebenarnya apa peran orangtua/para pendidik dalam membangun kemandirian anak, berikut ini beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita bersama:
1. Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orangtua yang memperlakukan anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orangtua yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak. Jangan memberi pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk percaya bahwa dirinya "istimewa" dalam kekhasan mereka masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman- teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses pembentukan kepribadiannya di samping semua bekal fasilitas ilmu. Bimbingan rohani menjadi sangat penting dalam membekali anak untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya.
2. Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan. Orangtua yang mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa kanak- kanak adalah orangtua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya pada suatu landasan yang teguh. Sebab di tengah pelbagai situasi ketika anak jauh dari orangtuanya atau ketika ia harus menjawab sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat segera diatasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Kita belajar dari Samuel dan Timotius, kedua anak yang sejak masa kecil menerima bimbingan rohani yang kokoh dari ibunya, pada saat menghadapi perbagai pengaruh lingkungan, mereka dapat berdiri tangguh, mandiri, mampu menghadapi, dan melewati setiap pengaruh yang ada di sekitar hidupnya.
3. Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan tangung jawab dalam berbagai sektor kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan dirinya. Dalam hal ini, orangtua yang pada umumnya lebih banyak memberi waktu dan perhatian awal kepada anak di masa pertumbuhan, mempunyai andil yang cukup besar. Misalnya, biarkan anak-anak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.
4. Melatih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu dalam hidup dan melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut.
5. Jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orangtua dengan menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam ketakutan, orangtua menjadi berlebih-lebihan dalam memberi fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi gugup dan resah.
Menutup tulisan ini marilah kita bersama membangun karakter mandiri anak-anak melalui kesabaran, keteguhan hati, dan iman yang teguh kepada Tuhan. Biarlah hikmat memperlengkapi setiap kebijakan yang diambil orangtua untuk anak-anaknya, seperti kata Amsal 22:6, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
ADAPTED FROM:
http://www.jendelaanakku.net
Written by Mira D. Amir, Psi.,