The students are: Adifa - Adyatma - Alfi - Lala - Naya - Audifa - Lia - Ayyub - Dana - Fahri - Faris - Fatin - Azka - Marva - Ghani - Novit - Rizal - Silmy - Icha - Edris - Rafi - Keysha - Arva - Rona - Huda - Sekar - Selvy - Tengku - Tita - Shafa

Sunday, January 29, 2012

Sulit Belajar? Inilah solusinya!


KOMPAS.com - Setiap orang memiliki tantangan tersendiri dalam menjalani masa studinya. Ada yang lancar-lancar saja dalam berbagi waktu untuk belajar, ada pula yang mengalami hambatan. Bagaimana kalau selama ini selalu mengalami kesulitan dalam belajar? Permasalahannya, bisa saja karena susah berkonsentrasi atau menyiasati waktu belajar di antara segudang kesibukan.

Beberapa tips berikut ini mungkin bisa diterapkan dan membantu Anda mencari jalan keluar dari problem belajar yang Anda hadapi:

a. Pilih tempat yang tenang agar Anda dapat belajar dengan rileks
b. Pilih satu waktu khusus untuk belajar setiap hari. Jangan ubah waktu belajar tersebut!
c. Jauhi kebisingan dan gangguan yang membuat Anda sulit untuk belajar
d. Mintalah bantuan/dukungan kepada keluarga dan teman saat Anda sedang belajar
e. Belajarlah untuk berkata “Tidak” pada hal-hal yang kiranya mengganggu, seperti telepon, teman, pekerjaan rumah, atau televisi
f. Pasang benda yang bertuliskan “DO NOT DISTURB” pada gagang/depan pintu kamar, ketika Anda sedang belajar
g. Luangkan waktu yang cukup untuk Anda beristirahat
h. Blok waktu Anda selama 50menit untuk belajar
i. Kelola waktu pada siang hari Anda untuk belajar sedapat mungkin
j. Bebaskan pikiran Anda dari semua ingatan yang kiranya bisa mengganggu belajar Anda
k. Berikan waktu luang sejenak untuk beristirahat

Jika saran tersebut masih belum bisa mempermudah Anda dalam belajar, maka cobalah untuk memikirkan strategi lain. Misalnya, belajar kelompok bersama teman-teman. Setelah itu, cobalah pilih mana yang lebih memudahkan Anda berkonsentrasi dalam belajar, sendiri atau berkelompok. Semoga sukses!

source: http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/24/0841316/Sulit.Belajar.Ini.Solusinya

Thursday, January 26, 2012

Weekly News 4th Week: 24-27 January 2012


A. Qur'an
1. Tahfidz QS. Insyiqoq: 1-7

B. PAI
1. -

C. Fiqih & Life Skills
1. Sholat Sunnah Rowatib (UK)

D. INDONESIAN
1. menjelaskan isi puisi

E. ENGLISH
1. Daily English Expression
2. thematic vocabularies: FARM

F. MATH
1. UK Pecahan
2. Mengenal bangun datar

G. SCIENCE
1. UK. Bab X

H. SOCIAL STUDIES
1. Semangat Kerja

I. CITIZENSHIP
1. Menjaga harga diri pribadi dan bangsa

J. ARABIC
1. kalimat ajakan

Weekly News 3rd Week: 16- 20January 2012


A. Qur'an
1. Tafidz QS. Insyiqoq: 1-6

B. PAI
1. Kalimah Thoyyibah

C. Fiqih & Life Skills
1. Sholat Sunnah Rowatib

D. INDONESIAN
1. membuat puisi

E. ENGLISH
1. Phonics -er & -le
2. 'Whose'
3. her/his

F. MATH
1. menyebut bilangan 'pembilang' dan 'penyebut'
2. mengurutkan dan membandingkan 2 pecahan

G. SCIENCE
1. bab X

H. SOCIAL STUDIES
1. Mengerjakan Bab IV

I. CITIZENSHIP
1. Menjaga harga diri
2. Evaluasi bab ke-3

J. ARABIC
1. latihan membuat percakapan
2. uji kompetensi

Monday, January 23, 2012

Melatih Kepercayaan Diri


Meningkatkan rasa percaya diri pada anak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bisa jadi karena metode yang digunakan oleh orang tua kurang sesuai maka rasa percaya diri anak justru semakin lama semakin pudar. Maka peran orang tua dalam usaha meningkatkan rasa percaya diri pada anak sangat diharapkan.
Rasa percaya diri pada anak akan berguna sepanjang hidupnya. Itulah di antara hal yang akan dapat menguatkan motivasi pada seseorang untuk tetap survive dalam kondisi yang berat. Ketika problematika sosial semakin kompleks maka rasa percaya diri akan semakin memegang perannya yang penting.

Berikut ini ada beberapa kiat yang bisa anda pakai dan praktikkan untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak anda.

1. Panggillah anak-anak dengan nama-namanya
2. Berilah waktu anak anda untuk berbicara tentang hal yang merisaukannya
3. Pakailah metode-metode yang disukainya
4. Sesuaikan perhatian anda dengan fase perkembangan anak dan kemampuannya
5. Berilah kesempatan dan peluang pada anak untuk memilih solusi-solusi dan berilah dia wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan fase perkembangannya
6. Berilah dia kesempatan untuk mencoba hal-hal baru dalam usahanya
7. Luangkan waktu anda untuk anak anda dan ingatlah bahwa hal itu merupakan hal yang paling baik dibanding materi yang lain
8. Dampingi anak dalam melakukan hobinya dan hindarkanlah campur tangan anak lain dalam hobinya
9. Hindarilah mencela atau memanggilnya dengan nama yang buruk
10. Jadilah teladan yang baik baginya, karena anak-anak belajar melalui keteladanan terutama orang terdekatnya khususnya orang tuanya
11. Bila bermaksud meluruskan kesalahannya, maka janganlah menyebut pribadinya tapi sebutlah metodenya yang keliru (misal: katakanlah “Ruang kerja itu bukan untuk tempat bermain-main” sebagai ganti dari “Jangan bermain di ruang kerja hai anak tidak beradab”)
12. Pujilah anak jika berhasil melaksanakan tugasnya
13. Terimalah apapun perasaan dari anak – baik itu penolakan ataupun penerimaan- tanpa menghukuminya


Dengan melakukan tips-tips di atas diharapkan rasa percaya diri pada anak akan bisa meningkat. Sebagai orang tua, khususnya ibu tentu tidak melulu dengan tips di atas tapi juga harus mencoba melakukan berbagai tips-tips lainnya yang bisa digali lewat pengalaman pribadi atau hasil dari “ngrumpi” dengan ibu-ibu arisan. Selamat mencoba.

taken from: http://pondokibu.com/275/tips-tips-meningkatkan-rasa-percaya-diri-pada-anak-anda/

Thursday, January 19, 2012

Cara Menguasai Bahasa Inggris


  • Berikut ini penuturan Pengalaman Bpk. Mampuono Rasyidin tentang pengalamannya belajar bahasa Inggris, Selamat menyimak:


  • PERTAMA:Ketika orang lain memulai belajar bahasa asing dengan listening, saya memulainya dengan thinking. Ya, saya memulainya dengan think in English. Semua pola pikir saya saya rubah dalam bahasa Inggris. Contoh: Ketika saya mendengar orang berbicara atau saya sendiri berbicara, di dalam hati saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebisanya. kalau gak tahu artinya saya usahakan kalau ada kesempatan saya buka kamus. Ketika mengalami atau melihat suasana tertentu atau ketika membaca buku, koran, bahkan bacaan sholat, semuanya juga saya artikan dalam bahasa Inggris. Kebiasaan lambat laun memperkaya kosa kata saya dalam bahasa Inggris. Hal-hal kecil yang kita lakukan sehari saya cari terjemahannya.
  • Misalnya:
  • - Kentut > fart
  • - Terkentut > Let fart by accident
  • - Berkacak pinggang > akimbo
  • - keplengkang > straddled
  • - Kejlungub > fall headfirst
  • - gragapan > grapple,
  • - nungging > topsy-turvy
  • - njungkel > upside down
  • - nggletak > sprawlde el el

  • KEDUA

    Tiada hari tanpa listening. Saya sempatkan listening terhadap film barat di TVRI (adanya saat itu cuman TVRI) selama 2 jam saban malam dan saya sempatkan juga listening di radio luar negeri 2 jam saban pagi. Setiap jam 21.30 setelah siaran dunia dalam berita biasanya diputar film-film barat. Kegiatan listening saya mungkin bermula dari pemahaman kurang dari 0,00001%, tetapi karena saya rutinkan maka kemampuan saya lambat laun meningkat pesat. Saya bahkan juga mulai menirukan sepersis mungkin apa yang diucapkan para pelaku di film-film tersebut. Dengan bangga saya bisa mnyebut bahwa bintang film HUNTER adalah salah satu guru native speaker saya :). Pagi harinya, mulai jam 04.00-06.00 saya ndengerin BBC, Radio Australia, dan VOA. Lama-lama karena kegiatan itu jadi kebiasaan akhirnya saya mulai paham dengan sendirinya tentang materi yang ada di dalamnya.

  • KETIGA

    Saya mulai membaca apa saja asal artikelnya dalam bahasa Inggris. Mulai dari buku kimia terbitan LN Macam Organic Chemistry yang setebal 800 halaman, novel-novel picisan, cerita rakyat, koran Jawa Post bekas, sampai majalah Hello bekas yang saya beli Rp. 1000 dapat tiga. Saya baca semua sambil sangu kamus. Pikir saya kalau saya "khatam" satu majalah, insya Allah saya akan mudah mengkhatamkan yang lain karena bahasanya kurang lebih sama. Dan kenyataannya memang benar-benar demikian.

  • KEEMPAT

    Saya mulai "GILA" dengan selalu berbicara dalam bahasa Inggris di mana ada kesempata, terutama sekali ketika saya berada dalam perjalanan. Caranya? Saya tutup helm cakil saya, lalu mulai "ngedumel" dan "ndremimil" dalam bahasa Inggris. Yang saya ucapkan adalah dialog-dialog dalam film atau radio dan saya ulang-ulang sepersis mungkin (hingga akhirnya saya menemukan berbagai metode gila cara belajar English yang sukses). Kalau orang lain memaksa bahasa Inggris ke dalam aksen bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, saya justeru sebaliknya. Saya berbicara dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia dengan logat asing. Kita menamainya logat Asindo (asing-Indonesia) sebagaimana yang dilakukan olah Cinta Laura atau Christian Gonzales. Pendeknya kalau mereka asli sedangkan saya memang sengaja meniru agar nantinya pronunciation saya lebih OK.
  • KELIMA

    Saya juga memperdalam 16 tenses, grammar dan latihan-latihannya. Sederhana saja caranya. Saya buka lagi buku-buku bahasa Inggris SMP dan SMA saya. Latihan-latihannya saya kerjakan ulang. Saya nilai sendiri. Saya remidi sendiri bila perlu. Hasilnya terbukti ketika tes masuk kuliah yang kedua dengan beasiswa DMAP (Developing Madrasah Aliyah Project) saya berada di ranking I, mengalahkan banyak teman yang dri D3 Bahasa Inggris yang tes bareng saya. Saya baru mengenal grammar tingkat perguruan tinggi ketika kuliah S-1 Penyetaraan bahasa Inggris tersebut. Saya masuk Oktober 2001 dan ujian skripsi Oktober 2002.

  • KEENAM

    Saya melakukan test drive trhadap kemampuan speaking saya. caranya dengan mencoba berbahasa Inggris kepada setiap guru bahasa Inggris yang saya jumpai. Resikonya ada dua. JIka guru tersebut kemampuannya pas-pasan pasti agak "serik" karena merasa dites. Kalau guru itu pintar, dia akan mengapresiasi kita. Saksi hidup saya adalah Mas Budi guru SMA 8 Semarang. Beliau saya datangi rumahnya di Mranggen untuk menjajal kemampuan saya ngomong Inggris di hadapan beliau.
  • Mampuono Rasyidin Tomoredjo KETUJUH

    Belajar paling efektif adalah mengajar. Maka apapun saya lakukan agar saya bisa mengajarkan bahasa Inggris. Mula-mula dengan mengajari remaja kampung yang mau, lalu mengajar les privat, sampai akhirnya mengajar madrasah Aliyah. DI MA Hidayatul Mubtadiin Demak inilah saya mendapatkan beasiswa DMAP sehingga akhirnya resmi dinyatakan sebagai lulusan S-1 bahasa Inggris dengan predikat cumlaude (baca: kumlaud-kumlaudan kali, karena kuliah kurang dari 2 tahun kok sarjana. Tapi kalau ada yang mau menguji kekumlaudan saya saya persilakan hehe...combonk.com)Takdir juga akhirnya mempertemukan saya dengan SMA Semesta sehingga saya bisa praktek bahasa Inggris lebih banyak dengan orang-orang asing dan murid-murid di sana. Saya mengajar kimia dengan pengantar bahasa Inggris dan juga mengajar bahasa Inggris itu sendiri. Pada saat matrikulasi bahkan saya harus mengajar bahasa Inggris 24 jam seminggu untuk sebuah kelas. jadi saya bisa mengajar 4-6 jam per hari untuk satu kelas selama satu semester.Selepas di sana, saya juga keterima PNS sebagai guru bahasa Inggris SMP, sampai akhirnya saya juga menjadi dosen bahasa Inggris dan ICT di dua buah perguruan tinggi di Semarang. Karena kemampuan ICT yang mungkin lebih dikenal orang, akhirnya saya hijrah ke ICT. Untuk mempertahankan bahsa Inggris, saya selain menggunakan cara-cara lama, saya aktif juga berkomunikasi dengan kawan-kawandari Luar Negeri.


  • KEDELAPANMANFAATKAN ICT!!!!Contoh, kita bisa gunakan Tell Me More, Business English, Encarta Encyclopaedia dengan Multimedia dictionary nya, software2 Text to Speech macam Loquendo, Text Aloud, software-softawre perekam suara macam Adobe Audition atau Cool Edit Pro, dll.ICT memang tiada duanya jika kita mau menggunakan untuk belajar bahasa, lain tidak.

Wednesday, January 18, 2012

"Integritas" sebuah kisah dari Asep Sapa'at

Ujian hidup jauh lebih rumit daripada ujian sekolah. Ujian sekolah, sesulit apa pun ada kunci jawabannya. Namun tak demikian dengan ujian hidup. Jangan mimpi bisa dapat bocoran untuk persoalan ujian hidup. Temukan sendiri jawabannya.

Ada ujian negara (1971 – 1972), ada ujian sekolah (1972 – 1992), juga ada Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS, 1992 – 2002), lalu kita mengenal ujian nasional (UN). Saya yakin ada banyak kisah menarik di balik setiap penyelenggaraan ujian tersebut. Saya masih terkenang, bahkan masih sulit melupakan apa yang pernah dialami ketika mengikuti EBTANAS.

Siapa bilang jadi juara kelas itu menyenangkan? Saya sangat ‘tersiksa’ menjadi juara kelas justru pada momen EBTANAS. Reputasi dipertaruhkan. Mampukah sang jawara kelas lulus EBTANAS? Mungkinkah sang jawara bisa meraih nilai EBTANAS tertinggi? Di atas kertas, semua itu mestinya bisa diraih. Beberapa kali try out, hasilnya sangat memuaskan. Lihat pengumuman hasil try out, nama saya selalu di posisi puncak. Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA), satu tahapan sebelum EBTANAS, pun dilalui dengan mulus. Nilai tertinggi & posisi puncak masih dalam genggaman.

Cerita dimulai beberapa hari jelang EBTANAS SD dilaksanakan, tak ada angin tak ada hujan. Ada yang tidak biasa terjadi di hari itu. Saya dipanggil kepala sekolah (kepsek) ke ruangannya. Pengalaman eksklusif seumur hidup saya menjadi siswa di sekolah itu. Banyak pertanyaan bergelayut di pikiran, “Ada apa dengan saya?”

“Andakah yang bernama Asep Sapa’at?” Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut kepsek sesaat setelah beliau menjawab salam dari saya ketika saya masuk ke ruangannya. “Betul,” jawab saya singkat. Kepsek melanjutkan pembicaraannya, “Begini Sep, Anda termasuk juara kelas & berhasil mendapat nilai EBTA yang paling tinggi. Selamat. Saya berharap pada saat EBTANAS nanti, tolong teman-teman kamu dibantu.”

Seketika dunia seperti berhenti bergerak. Saya masih mencoba memahami maksud tersirat dari pernyataan kepsek itu. Beberapa menit saya berada di ruangan orang nomor wahid di sekolah. Hanya pesan itu yang masih terekam jelas dalam ingatan. Kata-kata lainnya, saya sudah tidak bisa mengingatnya lagi.

Tak perlu waktu lama untuk memahami keinginan kepsek. Wah, ini ujian terberat dalam hidup saya di momen maha penting, EBTANAS. Semua kawan-kawan saya tahu, saya orang paling pelit dimintai jawaban ketika ujian. Ulangan harian, ulangan catur wulan, tak ada cerita saya akan menghibahkan jawaban kepada kawan-kawan. Tak ada kompromi, titik. Andai mereka tahu percakapan saya dengan kepsek, pasti mereka bersorak-sorai. Ternyata, inilah sisi lain kehidupan seorang juara kelas, nikmat membawa sengsara.

W. Clement Stone berujar, “Berani berkata tidak. Berani menghadapi kebenaran. Kerjakan sesuatu yang benar karena itu benar. Ini adalah kunci untuk hidup dengan integritas”. Ujian hidup itu benar-benar datang, EBTANAS di depan mata. Percakapan terakhir dengan kepsek terus membuntuti pikiran.

Integritas, kata yang baru bisa saya pahami maknanya saat ini. Dulu, saya hanya punya prinsip, tak usah pedulikan omongan kepsek. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Integritas, tetaplah lakukan yang benar. Itu yang bisa saya pahami sebagai anak kelas 6 SD. Usia yang teramat muda untuk memahami makna ‘integritas’.

Hari pertama EBTANAS pun datang. Hati berdegup kencang tak karuan. Mestikah saya ikuti pesan kepsek? Andai dulu saya tahu bohong itu boleh untuk situasi seperti ini, saya pasti akan bilang, ‘bohong itu hukumnya wajib’.

Secepat kilat lembar soal & jawaban sudah berpindah tangan dari pengawas kepada seluruh peserta EBTANAS. Priiit, pengawas memberi tanda soal EBTANAS sudah bisa mulai dikerjakan. Baru lima menit waktu berlangsung, suasana mulai tak karuan. Beberapa teman di belakangku meminta beberapa jawaban untuk soal-soal tertentu. Teman di samping tak kalah agresifnya, dia lempar kertas yang sudah digulung-gulung, di sana tertulis, “Minta jawaban no. 1 – 5, 8 – 12, 21 – 25,..”. Wualah, bilang aja minta jawabannya semua.

Saya tetap tak bergeming, mencoba bertahan untuk tak memberi jawaban. “Tenang, nanti aja pas mau selesai waktunya, saya berikan jawabannya,” sembari berbisik kepada sang peminta jawaban. Jawaban diplomatis seperti itu yang bisa kuberikan. “Waduh, kok jadi kacau begini. Mungkinkah kepsek sudah memberi kode pada teman-teman untuk meminta jawaban dari saya tanpa sungkan?” Jika benar kepsek mengatur skenario ini, tindakan ilegal telah dilegalisasi. Pengawas EBTANAS, harapan saya terakhir untuk tetap bersikap benar.

Harapan tinggal harapan, pengawas tak terlalu bisa diharapkan. Pengawas yang satu menegur, pengawas lainnya membiarkan. Tidak kompak, itu tema utamanya. Teman-teman terlalu diberi keleluasaan mengakses jawaban dari saya. Saya masih & akan terus bertahan menjaga prinsip. Saya pura-pura tidak mendengar jika ada yang memanggil, pura-pura lupa memberi jawaban sesuai permintaan teman. Sikap terakhir, memberi 2 kemungkinan jawaban, biar mereka tetap saya suruh berpikir. Lelah, kata ini yang paling bisa mewakili perasaan saya di saat itu. Bayangkan, hari-hari berikutnya, nyaris seperti itu. EBTANAS, ujian mempertahankan prinsip hidup.

Konsentrasi buyar, suasana hati berantakan, sulit sekali bisa fokus mengerjakan soal ujian. Berharap EBTANAS segera berakhir. Tak ada kenikmatan lagi saat menyantap satu persatu soal ujian. EBTANAS selesai, plong rasanya.

Hari pengumuman hasil EBTANAS pun tiba, namaku tak tercantum di urutan teratas. Nilai EBTANAS anjlok dibanding hasil EBTA. Sakit sekali rasanya. Masuk 3 besar dari kelas 1 sampai 3, juara kelas dari kelas 4 – 6 SD tak mampu kusempurnakan dengan raihan hasil EBTANAS yang memuaskan. Kisah memilukan di akhir perjalanan sebagai murid SD. Semangat hidup sempat terpuruk.

Namun, itu tak berlangsung lama. Hari-hari baru mulai dijalani. Cita-cita baru dirangkai kembali. Masih ada hal penting nan berharga yang masih bisa diselamatkan, integritas.

EBTANAS, ujian hidupku yang sesungguhnya dalam mempertahankan integritas diri. Pelajaran hidup dalam memaknai kata integritas. Jika Anda diberi soal ujian, apa yang dimaksud integritas? Tolong, jangan pernah bertanya pada siapa pun. Tanyalah pada diri Anda sendiri, apakah Anda sudah belajar?

(FROM REPUBLIKA.CO.ID Rabu, 18 Januari 2012 10:51 WIB)



Asep Sapa'at
Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa